oleh

Harga Gula ‘Selangit’ Apa Kata Para Pemangku Kebijakan?

indonesiakita.co – Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto mengaku bahwa pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap harga gula. DIketahui, dalam beberapa pekan ini harga gula cenderung tidak stabil.

Diketahui, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018, harga acuan pembelian gula di petani ditetapkan sebesar Rp9.100 per kg, sementara di tingkat konsumen HET sebesar Rp12.500 per kg. “Untuk sementara ini kita tidak akan ada penyesuain HPP (biaya produksi). Apabila kita naikkan akan terjadi inflasi,” ujarnya, dalam telekonferensi, Selasa (28/4/2020).

Agus mengungkapkan, salah satu alasan Kemendag tak merevisi regulasi karena biaya produksi masih di bawah aturan yang ditetapkan. Selain itu, biaya produksi masih cukup terjangkau.

“Jadi, ini masih bisa produksi. Termasuk tetap masih bisa terjangkau,” sambungnya.

Agus Suparmanto memang, sebelumnya mengatakan bahwa dari hasil pemantauan harga gula dari produsen masih di bawah Rp12.000 per kilogram (kg). Gula tersebut telah dilepas ke konsumen.

“Sampai ke konsumen ini kalau sampai Rp17.000 per kg ini bagi saya sudah kelihatan ini tidak sehat,” ujarnya dalam telekonferensi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Perdagangan Dalam Negeri Suhanto mengatakan bahwa penyesuaian HET tidak bisa dilakukan dalam kondisi pandemi virus corona (Covid-19). “Kami perhatikan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat. Jangan bebani masyarakat dengan HET naik,” katanya.

Ia mengaku, telah mengetahui adanya lonjakan harga gula, terutama di wilayah Indonesia timur. Kemendag pun telah mendengarkan masukan dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, dan berbagai pihak lainnya. Meski begitu, ritel modern dinilai masih mampu menjual gula sesuai HET. “Mereka masih bisa kendalikan harga sebesar Rp 12.500 per kg,” ujarnya. (Fel)

Komentar

News Feed