oleh

Rizal Ramli: Tinggalkan China, Hindari Cetak Uang, Kalau Gak Kredibel Jangan Sok Hebat!

indonesiakita.co – Mendominasinya kepentingan China di Indonesia terus menjadi sorotan publik. Bahkan, pemerintah dinilai terlalu berlebihan menuruti banyak hal terkait kepentingan negara tirai bambu tersebut di tanah air.

Ekonom senior Rizal Ramli mengungkapkan, mengapa perekonomian Indonesia sulit berkembang, karena menurutnya, pemerintah terlalu takut, dan menuruti kemauan China.

Ia lantas mengkritik pernyataan presiden Jokowi yang sering menyebut investasi di Indonesia, namun hasilnya sama sekali tak membuat perekonomian RI berkembang. “Padahal Jokowi sering mengatakan “c’mon.. invest to Indonesia’…Gak ada hasilnya, mohon maaf, because you have wrong strategy’,” tegas Rizal, dalam sebuah diskusi di sebuah stasiun tv swasta nasional tadi malam.

Rizal juga menbeberkan, mengapa Indonesia sulit menuju pertumbuhan ekonomi hingga 5 persen. “Banyak negara lain yang melakukan dorongan perkembangan ekonomi dari dalam negeri.. Pompa dulu perkembangan ekonomi dalam negeri ke tujuh persen, otomatis nanti investasi juga akan masuk ke Indonesia, dibalik logikanya” paparnya.

Rizal menyebut, sejumlah analis menyatakan, bahwa tiga negara, yakni India, Vietnam dan Meksiko akan menjadi negara dengan perekonomian yang kuat pada masa mendatang. “Menurut saya, kalau kita canggih, kita cerdas, Indonesia bisa menjadi fourth super power dalam sepuluh tahun yang akan datang.

Untuk itu menurutnya, Indonesia sudah saatnya meninggalkan China. “Kita jangan lagi jadi antek China, konstitusi kita jelas -jelas bebas aktif, Indonesia gak boleh ikut blok barat dan blok timur. Selama ini takut banget sama China. Ini waktunya menggeser politik luar negeri kita, dan politik investasi kita, dari sangat pro china menjadi negeri kita sendiri,” tegasnya.

Ide Mencetak Uang

Sebelumnya, mantan menteri keuangan Chatib Basri menilai Bank Indonesia (BI) bisa mencetak uang banyak dalam rangka menutup defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020.

Diketahui, dalam menanggulangi Covid-19, pemerintah sudah mengusulkan pelebaran defisit anggaran sampai 5,07% dari produk domestik bruto (PDB) dari yang sebelumnya hanya 1,76%. “Defisit anggarannya dibiayai oleh bank sentral, kita bisa lakukan,” kata Chatib dalam video conference, Jakarta, Selasa (21/4/2020).

Namun, Ide tersebut juga mendapat kritikan keras dari Rizal Ramli. Menurutnya, langkah tersebut berbahaya bagi negara.

“Printing Money.. pada saat pemerintah tidak kredibel, banyak praktik KKN, dan abused of power, printing money ini sangat berbahaya, bisa mengakibatkan inflasi. Dan yang paling bahayanya lagi, begitu printing money dilakukan, rupiah bisa anjlok ke angka Rp 20 ribu per dolar AS. Kecuali pemerintah kredibel” tegas Rizal.

Marko Pumping

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini menjelaskan, bagaimana pemerintah saat ini menghadapi kondisi ekonomi.

“Bayangkan, samurai raksasa jatuh dari langit, kita sok jago, kita tahan samurai tersebut, tangan kita bleeding (berdarah-red). Istilahnya, kita ini gak sanggup, karena kita gak kaya-kaya amat. Kalau ada perusahaan mau buyback saham, pasti bleeding. Lihat saja semua group-group besar di Indonesia, valuasinya drop sampai 200 triliun.

Samurai itu jatuh dulu ke tanah, baru kita melakukan sesuatu. Kita ini tidak cukup kuat untuk melakukan makro pumping. Amerika berapa tahun lalu, pump 1 triliun US, hasilnya cuma berapa hari doang indeks naik, habis itu turun lagi.

Karena apa, masalahnya di coronanya, mau dipompa 2 triliun tetap masalah. Jangan sok-sokan makro pumping, selesaikan dulu masalah corona. Jadi jangan sok-sokan, BI sudah spend 300 triliun lebih untuk mensupport rupiah, tapi efeknya kecil. kemampuan kita terbatas jangan lakukan makro pumping, selesaikan dulu masalah corona,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed