oleh

Rizal Ramli Paparkan Cara Hadapi Badai Krisis Saat Pandemi Corona

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli kembali mengingatkan pemerintah agar menghentikan proyek infrastruktur dan pemindahan ibu kota, dan lebih fokus memikirkan solusi terkait penanganan virus corona. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah diskusi di salah satu tv swasta nasional malam ini.

“Hentikan semua proyek-proyek infrastruktur, dan pemindahan ibu kota yang gek jelas itu, tim risetnya juga rendah dan payah. Kita kan ada dana SAL (Saldo Anggaran Lebih) dan SILPA (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) yang totalnya kurang lebih Rp270 triliun, pakai uangnya untuk anggaran dasar kita,” tegasnya.

Rizal juga membahas soal kondisi perekonomian RI, dimana cicilan hutang  sangat besar yang ditanggung negara. “Cicilan pembayaran hutang kita itu setahun Rp 650 triliun, seperempatnya, itu kira-kira 25% dari bilateral. Kan banyak yang sok jago, ngaku hubungan internasionalnya hebat, kalau memang kenal dan dekat ini waktunya telpon kepala negara, minta tunda pembayaran dulu selama 6 bulan,” sambung Rizal

Terkait utang, Rizal kemudian mencontohkan, presiden Filipina, yakni Rodrigo Duterte, yang ekonominya di bawah RI. Namun, Filipina justru menerbitkan bond hanya 2%, dibawah Indonesia.

“Canggih banget Duterte, daripada menteri keuangan RI yang katanya terbalik. Menurut saya ini waktunya kita swap (tukar-red) bond-bond kita yang bungnya kemahalan, mumpung bond di seluruh dunia negatif.

“Sehingga dari cicilan satu tahun dari Rp 650 triliun itu paling tidak kita bisa hemat Rp 200 triliun. Dan kalau ditambah dari SAL dan SILPA tadi, kita bisa menghemat kira-kira Rp 900 triliun,” ungkapnya.

Dengan penghematan tersebut, mantan anggota tim panel penasihat ekonimi PBB ini merinci kebutuhan mendasar untuk berbagai sektor.

“Apa priotirasnya.. Rp 200 triliun kita fokus selesaikan masalah corona. Nah kemudian, Rp 300 triliun kita pakai untuk bantu rakyat miskin dan pekrja harian. Di Jakarta ini penduduknya sekitar 26 juta, 1/4 nya pekerja harian. kasih lah kebutuhan dasar.

“Tapi caranya jangan kasih paket, karena mereka gak perlu.. mereka perlu beras, telor minyak goreng. Atur, dan kalau perlu pakai BRI, karena saya gak percaya kalau ormas dipakai untuk salurkan uang, biasanya dari 1 juta yang sampai ke masyarakat hanya 100 ribu.

Ia kemudian menganjurkan, agar pemberian bantuan bersifat dana tunai, bisa dilakukan dengan sistem perbankan, selain terdata, juga lebih sistematis. “BRI itu punya cabang di seluruh Indonesia, satelit, kapasitas komputernya empat kali lebih besar dari BCA mereka transaksi perbankannya 3 kali dari BCA meski kecil-kecil.

“Kita salurakan berapa dananya per orang, sehingga betul betul sampai pada rakyat, dengan adanya langkah ini, berdampak pada perbankan, penetrasinya lebih tinggi, kalau ada masalah kita sudah tau caranya, kan datannya sudah ada,” sambungnya.

Adapun beberapa anggaran lain menurutnya, adalah sektor makanan.“200 triliun lagi untuk spen makanan. Saya awal corona sudah bilang, hentikan proyek ini, fokus dalam food production, kenapa, pada skala global akan terjadi kekurangan makanan.

“Sederhana, orang kalau diam di rumah dia pasti konsumsi makanan lebih banyak, liat aja pasti banyak yang gemuk.. konsuai naik 10 % tapi suplaynya drop 25 %, jadi bukan karena panic buying, …selain panic buying konsumsi naik 10 persen, suplai turun 25 %, dengan adanya kenaikan pada harga dolar, juga mengakibatkan harga makanan makin mahal,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed