oleh

RI Tak Dapat Keringanan Pembayaran Utang IMF, Rizal Ramli: Loh..Kan Sudah Dipestain di Bali?

indonesiakita.co – Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengumumkan kebijakan di tengah penyebaran Covid-19. Ironisnya, Indonesia tidak masuk dalam 25 negara yang mendapatkan keringanan pembayaran utang.

Dimana sebelumnya, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva mengatakan bahwa negara yang telah disetujui itu bakal diberi hibah dan keringanan pembayaran utang selama enam bulan.

“Ini memberikan hibah kepada anggota kami yang paling miskin dan paling rentan untuk menutupi kewajiban utang IMF mereka untuk fase awal selama 6 bulan ke depan dan akan membantu mereka menyalurkan lebih banyak sumber daya keuangan mereka yang langka ke arah upaya darurat medis yang penting dan upaya bantuan lainnya,” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, kemarin.

Menanggapi hal ini, ekonom senior Rizal Ramli melontarkan kritikan pedas dengan narasi yang menyentil di akun Twitternya. ““Lho kan IMF sudah dipesta besar-besarkan di Bali?”  tulis Rizal.

Sebagai informasi, sebelumnya, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk menjadi tuan rumah dalam pertemuan IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018 lalu dengan angka sangat fantastis. Ketua Pelaksana Harian pertemuan IMF-World Bank, Susiwijiono, menjelaskan pemerintah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 855,5 miliar.

Anggaran tersebut merupakan jumlah pagu yang dianggarkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dari 2017 dan 2018.

“Alokasi anggaran dari Kemenkeu itu sudah diputuskan bulan Februari-Maret 2017, itu multiyears 2017 dan 2018. Secara umum, realisasi uangnya, pagu yang sudah kita tetapkan di Maret 2017, untuk tahun 2017 alokasinya itu Rp 45,4 miliar. Lalu 2018, kita alokasikan Rp 810,1 miliar. Sehingga, pagu alokasi untuk multiyears, untuk 2017 dan 2018 kira-kira totalnya adalah Rp 855,5 miliar,” kata Susiwijono di Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Jumat (11/5/2018) lalu.

Alasan Rizal Ramli Mengapa RI Harus Tolak IMF

Ekonom senior Rizal Ramli menyesali sikap tim ekonomi pemerintah yang kerap mengandalkan utang dari IMF. Padahal menurutnya, Indonesia tidak perlu bergantung kepada Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF), supaya pertumbuhan ekonomi bisa bangkit.

Adapun saat ini menurutnya, Indonesia masuk dalam kategori negara miskin. Salah penyebabnya karena pemerintah terlalu bergantung pada saran dari Bank Dunia maupun IMF.

“Salah satu kita miskin karena korupsi. Kedua karena garis ekonominya, kebijakan ekonominya manut sama Bank Dunia dan IMF. Tidak ada negara hebat ikut saran dari IMF bank dunia. Harus ada perubahan,” ujarnya, kepada redaksi indonesiakita.co.

Mantan angota tim panel penasihat ekonomi PBB ini menjelaskan, bahwa negara-negara maju di dunia tidak pernah mengikuti saran kebijakan ekonomi dari Bank Dunia maupun IMF. Contohnya seperti Jepang dan Cina. “Jepang setelah perang dunia 12% selama 20 tahun. Cina tumbuh 12% dalam 25 tahun, karena tidak pakai memakai cara-cara Bank Dunia, IMF, tidak mengandalkan utang. Cina utangnya tidak ada, kecuali domestik,”  tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed