oleh

Ringankan Biaya Listrik, Bukan Barang Baru Bagi Rizal Ramli

indonesiakita.co – Pemerintah memastikan akan membebaskan biaya listrik dengan daya 450 Volt Ampere (VA). Dimana pembebasan biaya tersebut akan diberikan selama tiga bulan yakni April, Mei dan Juni.

Tentunya ini akan sedikit mengurangi beban masyarakat selama tiga bulan ke depan, meski tiga bulan ke depan, kita tentunya belum tau bagaimana nasib ekonomi RI. Namun demikian, langkah tersebut juga menuai apresiasi dari ekonom senior Rizal Ramli.

“RR memuji langkah pembebasan biaya listrik 3 bulan untuk 24 juta pelanggan listrik 450VA, dan diskon 50% untuk 7 juta pelanggan 900VA bersubsidi. Itu akan sangat membantu golongan menengah bawah,” ujar Rizal pada akun Twitternya @RamliRizal, kemarin.

Namun, taukah anda… pembebasan selama tiga bulan yang dilakukan oleh pemerintah bukanlah hal yang baru bagi Rizal. Pasanya, mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini jauh sebelum pemerintah melakukan pembebasan biaya listrik, Rizal lebih dulu memaparkan dampak positif ‘jangka panjang’ akibat diturunkannya harga listrik.

Ekonomi menurutnya simple.. jangan menyelesaikan masalah seperti kita baca buku, konvensional.. kaku, pejabat harus memiliki terobosan yang visioner, out of the box. Soal listrik diturunkan biaya listrik bukan sekedar hanya meringankan beban ekonomi masyarakat.. tapi juga mengakibatkan meningkatnya daya beli masyarkat yang memiliki uang lebih dari sisa biaya yang biasa dibayar untuk tagihan listrik.

Ringan.. dan sepertinya apa yang disampaikan mantan Menko Ekuin di era Gusdur ini sangat udah dicerna. Bagaimana tidak, Jika pemerintah saat ini berfikir membebasakan biaya selama tiga bulan hanya untuk meringankan biaya, namun Rizal justru berada di tiga langkah ke depan.

Peraih Nobel Prof. Joseph Stiglitz ini memang kerap memiliki cara pandang yang cukup membuat banyak orang kaget. Wajar, karena memang, sosok yang memiliki banyak pengalaman baik lokal maupun internasional ini memiliki cara menyelesaikan masalah tak sama dengan banyak orang pada umumnya.

Adapun menurut Rizal, dengan meringankan beban biaya listrik akan membuat perputaran uang berjalan lancar. Pasalnya, ibu-ibu rumah tangga akan menggunakan sisa uang tersebut untuk kebutuhan lainnya.

Akhirnya mereka belanja kebutuhan pokok, yang di untungkan pedagang sayur mayur, atau jika ibu-ibu membeli pakaian, yang untung pengusaha kecil menengah.. begitu seterusnya menurut Rizal.

Dengan perputaran uang tersebut, ia menilai dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Dan ini baru dari satu sisi saja tentang bagaimana cara untuk menumbuhkan ekonomi RI.

 

Rizal Ramli Selamatkan PLN dari Kebangkrutan

 

Saat dipercaya presiden Abdurrahman Wahid menjadi Menko Perekonomian antara 2000-2001, Rizal Ramli membongkar KKN dan patgulipat di tubuh BUMN.

Tentunya.. dalam menyelsaikan masalah tersebut, ia menggunakan strategi out of the box yang berorientasi pada keuntungan bagi rakyat banyak.

Rizal akhirnya mengetahui bahwa hampir semua dari 27 kontrak Pembelian Listrik Swasta atau Public Private Partnership (PPP) sebelumnya ternyata dipenuhi praktik KKN dan mark-up sampai 7 sampai 12 sen dolar AS per KW.

Padahal diseluruh dunia hanya 3 sen dolar AS. Konco-konco pihak yang berkuasa sebelumnya mendapat saham kosong yang ditukar dengan tariff yang sangat mahal, yang merugikan rakyat Indonesia.

Beban PLN akibatnya naik besar sekali, menjadi 85 miliar dolar AS, dan PLN nyaris bangkrut.

Selanjutnya, pemerintahan BJ Habibie yang berkuasa setelah Reformasi, via Dirut PLN Adi Satria, pernah berupaya menyelesaikan persoalan ini dengan mengajukan salah satu kontraktor ke pengadilan abitrase di luar negeri. Tetapi akhirnya kalah telak.

Dalam berbagai kasus arbitrase, negara  berkembang 99,9 persen akan kalah karena praktik korupsi di negara berkembang juga melibatkan berbagai lembaga internasional, dan bukan tidak mungkin termasuk pengadilan arbitrase.

Namun, tidak mau menggunakan jalur arbitrase, melainkan mengundang kawannya, seorang Redaktur pada harian Wall Street Journal,  koran bisnis paling berpengaruh di dunia.

Dimana harian itu menjelaskan KKN perusahaan-perusahaan Multi-Nasional yang cenderung mempromosi good corporate governance, namun melakukan praktik patgulipat dengan kroni kekuasaan di Indonesia. Praktik patgulipat itu dimuat di halaman muka WallStreerJournal selama tiga hari ber-turut.

Karena takut nama dan saham perusahaannya jatuh, puluhan bos perusahaan asing yang  punya kontrak dengan PLN terbang ke Jakarta dan mengajukan renegosiasi dengan Rizal Ramli.

Hasilnya luar biasa karena beban utang PLN akhirnya berhasil dikurangi sebesar 50 miliar dolar AS, dari 85 miliar dolar AS menjadi hanya 35 miliar dolar AS. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia pengurangan utang sebesar itu.

 

Cara ‘Out of The Box’ Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Ala Rizal Ramli

 

Jika pertumbuhan ekonomi di pemerintahan Jokowi cuma tumbuh di kisaran 5%, Rizal Ramli bisa mendorong pertumbuhan ekonomi ke 8%. Menurutnya hal ini bisa dilakukan dengan menurunkan harga-harga, misalnya tarif listrik khususnya yang 900 volt ampere (VA). Berikutnya menurunkan harga beberapa produk pangan seperti beras, gula, dan daging.

Karena menurutnya, dengan langkah seperti ini bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi 1%. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS), seperti di era Presiden Gus Dur di mana gaji PNS naik totalnya 125% yang juga akan membantu pertumbuhan ekonomi.

Rizal memang mengaku pernah meminta Gusdur untuk naikkan gaji pegawai negeri 125%, agar rakyat memiliki uang dan bisa digunakan untuk keperluan yang lain guna menambah pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, dengan memperluas lahan pertanian, yaitu jagung 1 juta hektar, dan tebu 500 ribu hektar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan demikian, setiap panen petani harus untung 10%. Jadi kita tetapkan 3 harga dasar untuk 3 komoditi. Nah kalau kita lakukan ini tiap 7 tahun pendapatan petani akan naik 2 kalinya.

Selanjutnya adalah dengan mendorong pertumbuhan pembangunan publik housing. Itu akan memacu pertumbuhan ekonomi. Pasalnya pembangunan perumahan ini akan meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat. Dia mencontohkan Amerika Serikat (AS) dalam hal ini.

Rizal juga pernah mengingatkan bahwa waktu Amerika Serikat mengalami depresi, untuk bikin bangkit ekonomi AS adalah bangun rumah yang menyedot lapangan kerja. Dengan langkah tersebut Indonesia bisa meningkatkan pertumbuhan sebesar 1,5 persen.

So.. sampai saat ini pemerintah sama sekali belum memenuhi janjinya terkait pertumbuhan ekonomi, dimana target Presiden Joko Widodo tumbuh progresif mencapai 7 persen pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN) 2015-2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi terbaru, Pada kuartal IV-2019, pertumbuhan ekonomi tercatat 4,97% year-on-year (YoY). Di bawah konsensus pasar yang dihimpun, yaitu 5,04% sekaligus menjadi catatan terendah sejak kuartal IV-2016. (Redaksi)

Komentar

News Feed