oleh

Catatan Akhir Pekan Rontoknya Rupiah Hingga Capai Rp 16.000

indonesiakita.co – Bank Indonesia (BI) mengucurkan dana sekitar Rp300 triliun guna menguatkan nilai tukar rupiah dari tekanan dolar AS, akibat pandemi global virus corona atau Covid-19. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan intervensi nilai tukar Rupoah dilakukan di pasar spot, kemudian di pasar sekunder untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor asing, dan intervensi di pasar Domestik NDF.

Hal ini ia sampaikan dalam telekonferensi pers usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, mengatakan “Kami terus melakukan injeksi likuiditas baik Rupiah dan valas, untuk injeksi likuditas kami laporkan tahun ini sudah injeksi Rupiah hampir Rp300 triliun,” kata Perry.

Adapun injeksi likuiditas itu antara lain dengan pembelian SBN di pasar sekunder mencapai Rp163 triliun, yang telah dilepas investor asing. Kemudian, BI mengubah Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah tau batas pencadangan kas bank mencapai Rp51 triliun sejak awal tahun.

BI juga melonggarkan lagi GWM Rupiah dengan tambahan likuiditas mencapai Rp23 triliun dan GWM valas dengan nilai suntikan dana US$3,2 miliar.

Perry mengatakan langkah ini dilakukan karena aliran modal asing (capital outflow) yang keluar dari Indonesia terus meningkat akibat tekanan ekonomi global. Dari Januari hingga Kamis (19/3/2020) kemarin, arus modal keluar mencapai Rp105,1 triliun secara netto.

Diketahui, Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS kian mengkhawatirkan. Dolar Amerika Serikat (AS) menekuk rupiah sehingga berada di level Rp 16. 000, bahkan sempat tembus Rp 16.200.

Mengutip data perdagangan Reuters, Jumat (20/3/2020), dolar AS telah menguat 262 poin atau 1,6% sepanjang hari. Hingga pukul 14.50 WIB, Jumat (20/3/2020) dolar AS tercatat bergerak di rentang Rp 15.925-16.200. Sedangkan secara point to point dibandingkan setahun yang lalu, interval pergerakan dolar AS terhadap rupiah mencapai 2.635 poin.

Jika ditarik sejak awal tahun, dolar AS bergerak dari level Rp 13.559. Angka tersebut dicapai pada Februari 2020 lalu. Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs tengah dolar AS terhadap rupiah kemarin telah menyentuh level Rp 16.273. Dalam sepekan kurs tengah JISDOR bergerak di rentang Rp 14.815-16.273.

Menurut data RTI, dolar AS kemarin tercatat menguat 273 poin atau 1,72%. Nilai tukar mata uang Paman Sam terhadap rupiah menyentuh level Rp 16.173.

Menanggapi kondisi ini, pakar ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Riwi Sumantya menyoroti lemahnya nilai tukar rupiah erhadap dolar Amerika Serikat, sebagai akibat pandemi Covid-19.

Nilai rupiah saat ini sudah menyentuh angka Rp16.000, dan menjadi yang terlemah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Ia menjelaskan, bahwa pelemahan rupiah tentu membawa banyak dampak terhadap roda perekonomian di Indonesia.

“Jika bahan baku atau barang yang didapat merupakan impor, maka akan berdampak pada harga jual. Berarti untuk menutup biaya produksi, maka harga jualnya harus naik. Ketika naik, apakah daya beli masyarakat ada? Jika daya beli masyarakat rendah atau bahkan tidak ada, maka barang tersebut tidak laku. Inilah yang akan mempengaruhi pergerakan ekonomi kita,” ujar Riwi lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (21/3/2020).

Menurutnya, akan banyak sektor – sektor yang rugi. Salah satunya sektor yang umumnya menggantungkan bahan baku dari luar negeri, seperti industri manufaktur, sektor farmasi, dan sektor pakan ternak.

Di lain sisi, ada pihak yang juga diuntungkan, misalnya industri mebel dan batu bara yang melakukan ekspor ke luar negeri, dan membuat pendapatan mereka meningkat.

“Apabila keadaan Indonesia masih seperti ini, Covid-19 belum segera teratasi saya memprediksikan bahwa nilai rupiah bisa melebihi angka Rp16.000 dan itu sudah terbukti hari ini.” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed