oleh

Perlambatan Ekonomi Sulitkan Jokowi Menangkan Pilpres 2019

-Opini-64 views

indonesiakita.co – Tingkat popularitas Presiden Jokowi dinilai masih tinggi oleh sejumlah lembaga survei di Indonesia dan dianggap cukup mudah untuk memenangkan pertarungan di Pilpres 2019. Namun demikian, sebenarnya yang terjadi saat ini adalah sebuah hal yang bertolak belakang karena dampak dari perlambatan pada pertumbuhan ekonomi jelang pemilu mendatang.

Tentunya hal inilah yang membuat presiden sebelumnya harus mundur di era reformasi dan memenangkan pemilih muslim yang konservatif dimana situasi kian memburuk saat itu.

Diketahui, sejumlah kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden Jokowi selama empat tahun masa kepresidenannya termasuk deregulasi, e-government, perawatan kesehatan dan subsidi pendidikan untuk orang miskin, dan peningkatan besar dalam belanja infrastruktur nyatanya bisa saja diniai tidak sigifikan. Karena jika mengacu pada penekanan infrastruktur akan membantu mengurangi ketidaksetaraan regional, namun dalam jangka panjang, akan terjadi kesulitan pada biaya pengembalian ekonomi secara langsung.

Jokowi memang menerima pujian tidak hanya dari orang Indonesia tetapi juga dari lembaga pemeringkat kredit dan lembaga internasional seperti Bank Dunia.

Perlu diketahui, bahwa pertumbuhan ekonomi telah stagnan di sedikit lebih dari 5% sebagian karena langkah-langkah penghematan, dimana sejumlah jajak pendapat nasional baru-baru ini menunjukkan lebih dari 30% pemilih belum memutuskan kandidat mana yang akan didukung.

Selain itu, lawan politik Jokowi, yakni Prabowo Subianto merupakan seorang pensiunan jenderal yang sempat kalah di Pilpres pada tahun 2014, kini perlahan-lahan semakin populer. Itu menimbulkan kekhawatiran di dalam kelompok Jokowi tentunya.

Kerentanan presiden Jokowi juga membantu menjelaskan keputusannya bulan lalu untuk memilih Ma’ruf Amin, seorang Islamis garis keras, sebagai pasangannya. Diketahui juga, pilihan itu mengejutkan sebagian besar orang Indonesia, meski pastinya ada perhitungan politik dingin di belakangnya.

Dengan menempatkan seorang ulama konservatif, Jokowi tampaknya berusaha mencegah pertentangan dari mempertanyakan kepercayaan religiusnya sendiri, seperti yang terjadi dalam pemilihan presiden 2014. Pada kondisi ini, Jokowi juga berharap Ma’ruf Amin akan membujuk pemilih Islami untuk mendukungnya.

Tetapi, tampaknya kemenangan tersebut itu sulit untuk terwujud, dan pilihan itu bahkan bisa merugikan suara Jokowi. Kaum Islamis cenderung mempertanyakan ketulusan presiden, sementara pemilih moderat, mayoritas besar ​​akan memperhitungkan Ma’ruf Amin Mr. Amin sebagai cawapres.

Tentunya, kekhawatiran mayoritas moderat memiliki alasan, Amin, seorang cendekiawan Islam berusia 75 tahun, dan juga sempat menjadi Ketua Umum di Majelis Ulama Indonesia, atau MUI, dan memegang posisi kepemimpinan di dalam Nahdlatul Ulama, organisasi Muslim terbesar di Indonesia.

Dimana Ma’ruf Amin juga dinilai telah menciptakan paradigma dalam pengaruh Islami di semua partai besar. Dia telah menyebut Ahmadiyah dan Muslim Syiah “penyimpangan” dan kampanye yang didukung untuk membatasi kegiatan mereka, ia juga berusaha untuk membatasi pembangunan tempat ibadah untuk agama minoritas.

Sebagai kepala MUI pada tahun 2016, Ma’ruf Amin memimpin kampanye protes melawan Gubernur Tionghoa yang terkenal di Indonesia, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dia menuduh Basuki, seorang Kristen, menghujat Islam ketika dia mengatakan pada kampanye bahwa Al-Qur’an tidak melarang Muslim untuk memilih calon non-Muslim. Atas kasus tersebut, pengadilan memvonis Ahok dua tahun penjara.

Ahok adalah mantan wakil Gubernurd DKI, saat Jokowi menjadi gubernurnya. Artinya, pendamping Jokowi saat ini dapat menggradasi popularitas Jokowi dari para pengagum Ahok.

Di sisi lain, Prabowo Subianto membuat keputusan cerdas untuk dijalankan dengan Sandiaga Uno, yang merupakan seorang pengusaha berusia 49 tahun yang menjadi politisi. Bahkan Sandiaga Uno berhasil mengimbangi eksterior Ma’ruf Amin.

Penampilan Sandi tentunya membuat Jokowi juga ingin seolah mewakili generasi muda dengan berpenampilan milenial. Hal ini tentunya terlihat pada saat Jokowi seolah mengendarai sepeda motor agar terlihat keren. Padahal nyatanya dalam sebuah video pembukaan Asian Games 2018 adalah stuntman dari Thailand.

Selain itu juga. pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia baru-baru ini di Hanoi, Jokowi membahas perdagangan dengan membuat analogi dengan film “Avengers” baru-baru ini.

Jokowi mungkin saja mahir menggunakan media untuk terhubung dengan pemilih, tetapi tantangan yang dihadapinya tidak dapat diselesaikan dengan pemasaran yang apik. Sebaliknya, pemilihan presiden Indonesia 2019 akan berkisar pada perlambatan ekonomi.

Saat ini, rupiah telah jatuh ke tingkat yang sangat memprihatinkan sejak krisis keuangan Asia tahun 1997-98. Selain itu, Federal Reserve kemungkinan juga akan terus menaikkan suku bunga jangka pendek, tidak ada bantuan yang terlihat. Kecemasan atas perang dagang Trump juga akan terus menyebabkan ekonomi berkembang dengan defisit neraca berjalan besar seperti Indonesia mengalami tekanan lebih ke bawah pada mata uang mereka.

Kelemahan Jokowi di bidang ekonomi telah memberikan peluang besar bagi Prabowo-Sandiaga Uno, dan tim kampanye Jokowi juga hanya berfokus pada isu-isu ringan saja. Hal yang paling diperhitungkan adalah, seandainya inflasi mulai menggeliat, pemilih yang ragu-ragu dapat memutuskan untuk berpihak kepada Prabowo.

Namun demikian, peluang Jokowi untuk memenangkan masa jabatan kedua akan meningkat jika ia mengambil langkah-langkah reformasi yang lebih berani. Pertama, ia perlu meningkatkan iklim investasi, terutama untuk investor asing langsung. Perusahaan Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan mencari ke selatan karena mereka mulai mengurangi investasi mereka di China sebagai akibat dari perang perdagangan AS-Cina. Vietnam, yang memiliki iklim investasi lebih ramah daripada Indonesia, paling diuntungkan dari tren ini. Dan Pak Widodo perlu menstabilkan rupiah untuk mengurangi inflasi – khususnya untuk makanan, karena ini memiliki dampak terbesar pada sentimen pemilih. (Penulis/Rizal Ramli. Tulisan ini juga sempat muncul di The Wall Street Journal dengan judul: Indonesia’s President Suddenly Looks VulnerableA slowdown in economic growth leads to a competitive 2019 election.

Komentar

News Feed