oleh

Fundamental Pergerakan Rupiah: Kita 7 Tahun Defisit Transaksi Berjalan , Vietnam Sudah 7 Tahun Surplus

-Opini-74 views

indonesiakita.co – Tanpa perlawanan yang berarti , rupiah terus menerus turun terhadap dollar . Dari sejak awal tahun saja ( year to date ) nilai rupiah – dollar sudah turun lebih dari 7,7% ( pernah turun ytd sampai lebih dari 12% ) , dan baru dua minggu terakhir rupiah menguat sehingga menjadi 7,62% ytd . Sedangkan penurunan kurs Vietnam Dong ( VND ) terhadap dollar year to date hanya 2,74% . Padahal Bank Indonesia juga sudah terus menerus mengguyur pasar dengan suplai dollar sampai2 cadangan devisa tergerus terus sehingga dari Januari 2018 sampai dengan akhir Agustus 2018 berkurang USD 14 miliar atau 204,4 Trilyun rupiah ( kurs 14600 ) .

Pemerintah juga tidak kurang2 dalam melakukan langkah2 untuk menghambat laju turunnya kurs rupiah dollar seperti mengeluarkan kebijakan kenaikan PPh impor terhadap 1147 komoditas atau barang konsumsi , mengkonversi BBM Solar menjadi biodisel B20 yaitu pencampuran solar dengan bahan bakar yang berbahan baku CPO sebesar 20% , menambah negara2 tujuan ekspor dll .

Namun semua langkah-langkah BI dan pemerintah itu terbukti tidak efektif atau membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memberikan efek terhadap kurs dollar rupiah yang signifikan .

Khususnya mengenai penaikan tarif PPh impor terhadap 1147 komoditas mendapat kritik keras dari mantan Menko Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur , DR Rizal Ramli bahwa penaikan tarif tersebut hanya terhadap barang kecil2 seperti lipstick , tas , pakaian dsb. sehingga efeknya terhadap penurunan impor juga akan kecil . Rizal Ramli menyatakan bahwa Sri Mulyani sebagai Menkeu tidak berani menaikkan tarif PPh impor komoditas sepuluh besar misalnya baja yang selain nilai impornya besar juga serbuan impor itu mengakibatkan industri baja kita terpukul dan dirugikan .

Hal itu menunjukkan bahwa langkah2 kebijakan pemerintah yang telah diambil masih langkah kecil2 , kurang efektif untuk menjaga nilai rupiah yang turun terus dan mengakibatkan efek negatif yang besar ke-mana2 misalnya kerugian PLN yang 18 Trilyun dan akibat naiknya harga batubara didunia internasional itu kedepannya juga terhadap proyek2 Pembangkit Listrik PLTU berbahan bakar batubara yang sedang direncanakan dan dikerjakan dalam kaitannya proyek 35.000 MW Indonesia akan rugi sebesar 519 Trilyun .

Demikian juga kebijakan pemerintah soal B20 yang berlaku sejak 1 September 2018 sampai sekarang belum ada efeknya yang signifikan . Hal ini jelas akan menyebabkan nilai impor migas yang akan naik terus dan akan terus menekan nilai kurs rupiah dollar .

Kalaupun ada kenaikan nilai rupiah terhadap dollar dalam 2 minggu terakhir ini bukanlah kenaikan yang fundamental tetapi karena penggelontoran dollar ke pasar oleh Bank Indonesia , dan adanya kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela di AS sehingga DPR AS dikuasai oleh Partai Demokrat yang menyebabkan para pebisnis besar dunia menjadi meragukan efektifitas kebijakan Presiden Donald Trump kedepan . Namun juga harus diingat akan adanya rencana Bank Sentral AS The FED yang akan menaikkan suku bunga yang akan menarik dollar dari Emerging Market termasuk Indonesia sekali lagi pada akhir tahun ini dan 3 kali lagi ditahun depan , 2019

Kalau ditelisik lebih lanjut mengapa nilai rupiah terhadap dollar jauh lebih merosot dari pada nilai Vietnam Dong terhadap dollar maka ternyata fundamental ekonomi kita jauh lebih lemah dari pada Vietnam sejak 2012 . Sejak 2012 Neraca Transaksi Berjalan kita defisit terus ( sebenarnya sejak kuartal IV 2011 ) , tetapi sebaliknya Vietnam surplus terus menerus dari 2012 sampai kuartal III 2018 ( dan mungkin sampai akhir 2018 )

Kita tahun 2012 defisit Transaksi Berjalan USD 24 Milyar , 2013 defisit USD 30 Milyar , 2014 defisit USD 25 Milyar , 2015 defisit USD 17,8 Milyar , 2016 defisit USD 16,3 Milyar , 2017 defisit USD 17,3 Milyar dan 2018 diperkirakan akan defisit USD 23 Milyar .

Sebaliknya kalau kita bandingkan dengan Vietnam , maka datanya sangat menarik . Walaupun Vietnam sejak 1980 sampai dengan 2006 mempunyai defisit transaksi berjalan sekitar USD 0,5 – 2,6 Milyar setiap tahun , kemudian dari 2007 – 2010 defisitnya melonjak disekitar antara USD 4 – 10,7 Milyar pertahun , namun setelah 2011 berbalik menjadi surplus kecil yaitu sekitar USD 0,2 Milyar , maka dari 2012 sampai dengan 2017 surplus besar dari sekitar USD 8,2 – 10,1 Milyar dan hanya ditahun 2017 surplus kecil yaitu ” hanya ” sekitar USD 2,8 Milyar , serta di 2018 diperkirakan akan surplus besar lagi .

Kalau dilihat perkembangan fundamental ekonomi Vietnam yang tadinya kurang bagus dalam jangka waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 25 tahun , tetapi kemudian 7 tahun belakangan ini membaik dengan sangat signifikan . Dengan catatan bahwa ekspor Vietnam sangat didukung oleh produk2 teknologi seperti gadget Samsung dan juga textil ( ekspornya dua kali lipat dari Indonesia ) . Sebaliknya ekonomi Indonesia turun drastis sejak 2012 sampai sekarang akibat dari ekspornya hanya mengandalkan bahan mentah yaitu CPO dan batubara yang harganya menurun sejak 2012 .

Sangat terlihat bahwa kualitas perekonomian yang dicerminkan dari surplus atau defisit transaksi berjalan , Vietnam jelas jauh lebih bagus dari Indonesia . Para menteri ekonomi Vietnam bahkan mampu membalikkan kondisi perekonomian yang tadinya dalam jangka waktu lama kurang bagus , dalam 7 tahun terakhir menjadi sangat positif . Namun bukan hanya itu saja , kualitas ekonomi yang ditunjukkan oleh struktur ekonomi yang berbasis teknologi dan manufacturing jelas Vietnam lebih maju dari Indonesia yang hanya mengandalkan produk bahan mentah dan hasil tambang yang tidak diolah .

Memang ada faktor lain yang harus dilihat selain neraca transaksi berjalan yaitu neraca pembayaran yang bisa mengkompensasi defisit transaksi berjalan . Namun suatu perekonomian akan sangat bagus dan kuat fundamentalnya bila transaksi berjalan dan neraca pembayarannya dua2nya surplus . Tetapi tentu saja hal itu memerlukan kerja keras dan kecerdasan dari menteri2 ekonominya .

Jadi hal seperti itu juga jelas menunjukkan kualitas dari menteri2 ekonomi yang membuat kebijakan2 perekonomian dan berada di pemerintahan kita baik dimasa sekarang maupun sebelumnya . Padahal ber-macam2 masalah ekonomi global yang dihadapi oleh Vietnam sama sulitnya dengan Indonesia . Tetapi kesulitan2 yang ditimbulkan oleh ekonomi global diantisipasi dan diatasi oleh Vietnam namun disini hanya digunakan untuk alasan dan dalih untuk menutupi perekonomian yang tidak berprestasi .

Bahkan disini bukan prestasi perekonomiannya yang dikejar tetapi pencitraannya dengan rekayasa sebagai menteri terbaik sedunia yang diberikan di World Development Summit di Dubai , menteri keuangan terbaik 2018 se Asia Pasifik Timur yang diberikan di Nusa Dua Bali oleh majalah Global Markets yang terkait dengan IMF dan Bank Dunia dsb . Pada akhirnya publik bisa menilai sendiri ternyata kualitas menteri ekonomi yang bersangkutan jauh lebih rendah dari menteri2 ekonomi Vietnam . (Penuis- Abdulrachim K)

Komentar

News Feed