oleh

Pemerintah Dapat Pinjaman Rp 9,4 Triliun dari Jepang untuk MRT

indonesiakita.co – Pemerintah Indonesia hari ini menandatangani nota peminjaman dana dari Japan International Cooperation Agency Jepang (JICA) senilai maksimum Rp 9,5 triliun (berkisar 70 miliar yen) untuk proyek pembangunan MRT Jakarta Jalur Selatan-Utara Fase 2 (Bundaran HI-Kampung Bandan sepanjang 8 km).

Penandatanganan itu dilakukan antara Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika-Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Desra Percaya, di Kemlu RI Jakarta. Prosesi penandatanganan dilakukan secara tertutup, jelas pihak Kedutaan Jepang.

Konsuler Bidang Ekonomi Kedutaan Jepang Shigemi Ando mengatakan, Syarat peminjaman ‘Japan tied’, sebagaimana ditentukan oleh JICA, mewajibkan pihak peminjam (Indonesia) untuk menggunakan jasa dan suplai konstruksi dari pihak pemberi pinjaman (Jepang).

“Nota peminjaman bernilai maksimum 70,210 miliar yen, dengan suku bunga 0,01 persen. Syarat peminjaman adalah ‘Japan tied’. Dana akan digunakan untuk membiayai proyek pembangunan MRT Jakarta Jalur Selatan-Utara Fase 2 Bundaran HI-Kampung Bandan,” ujarnya, dalam konfrensi pers hari ini, di Jakarta.

Adapun pelaksanaan proyek itu sendiri akan dimulai pada Desember 2018 dan akan memakan waktu selama tujuh tahun. Menurut kalkulasi pihak Jepang, proses pengerjaan MRT Jakarta Fase 2 akan selesai pada 2025.

“Dana pinjaman akan dicairkan secara bertahap sesuai kebutuhan proses pengerjaan. Uang itu akan digunakan untuk berbagai keperluan, meliputi: pengerjaan konstruksi, pembangunan rel bawah tanah, hingga pengadaan 40 gerbong kereta baru,” jelas Shigemi Ando.

Selain itu menurutnya, bahwa proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2 akan membutuhkan biaya tambahan, di samping nilai pinjaman yang telah disepakati hari ini. “Menurut kami, proses Fase 2 akan dibagi menjadi dua bagian, pengerjaan tahap pertama (Fase 2-1) dan tahap kedua (Fase 2-2). Dana 70 miliar yen yang kami pinjamkan diperkirakan hanya untuk pengerjaan Fase 2-1 tersebut,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa untuk pendanaan Fase 2-2, pihak pemerintah Indonesia belum mengajukan proposal peminjaman. “Tapi, kami telah menawarkan kepada Indonesia, PT MRT Jakarta, dan Provinsi DKI Jakarta, jika diperlukan. Akan tetapi kami rasa, pembiayaan untuk Fase 2-2 tidak akan begitu mahal. Karena sebagian besar proses konstruksi dikerjakan di Fase 2-1 menggunakan dana 70 miliar yen itu,”tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed