oleh

Rizal Ramli Ungkapkan IMF Sebagai Penyebab Terjadinya Krisis di Indonesia

indonesiakita.co – indonesiakita.co – Nilai tukar rupiah hari ini kembali melemah hingga 10 poin atau Rp 15.205 per dolar Amerika Serikat. Ekonom senior Rizal Ramli mencoba menjelaskan kondisi ekonomi saat ini serta kehadiran IMF-World Bank di Bali yang saat ini terus menjadi sorotan sejumlah media di Indonesia.

Ia mengungkapkan, bahwa sempat menolak adanya tawaran pinjaman dari IMF kepada pemerintah pada tahun 1997, dimana saat itu RI sedang mengalami krisis.

“Rizal Ramli satu-satunya ekonom Indonesia yg menolak pinjaman IMF di pertemuan para ekonom di Hotel Borobudur dengan Managing Director IMF Camdesus bulan 0ct 1997, sebelum Camdesus bertemu Pres Soeharto di Istana. Ekonomi akan semakin rusak dibawah IMF. Ternyata semuanya terbukti,” ujarnya, dikutip dari cuitannya pada akun Twitter @RamliRizal hari ini.

Ia menambahkan, bahwa pada bulan October 1996, dimana saat itu ia menjadi Chairman Econit Advisory Group mengeluarkan 100an halaman forecast utk ekonomi Indonesia: “1997: The Year of Uncertainty”. Bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami krisis ekonomi 1997-98. “Tidak ada yg percaya, tetapi ternyata semuanya terjadi,” ungkap Rizal.

Adapun saat itu menurutnya, IMF membuat blunder karena menawarkan paket dengan syarat banyak sekali, susah dipenuhi, mengada-ngada, pemerintah terpaksa manut. “Misalnya, kebijakan likuidasi 16 bank kecil justru justru hancurkan kepercayaan masyarakat, mereka menarik dana dari bank2 nasional, banyak bank kolaps,” tambah mantan anggota tim panel penasihan ekonomi PBB itu.

Menurutnya, keputusan untuk mengundang dan meminjam dari IMF merupakan kesalahan terbesar Widjoyo yg membujuk Presiden Soeharto untuk mengundang IMF. “Pasalnya, IMF menyarankan berbagai program kebijakan yang tak masuk akal dan malah membuat kondisi ekonomi nasional justru semakin terpuruk,”.

“Begitu IMF datang, mereka memaksa dan membujuk Pemerintah Indonesia untuk menaikkan tingkat bunga sangat tinggi dari 18% ke 80%. Teorinya utk menahan pelarian modal & memperkuat Rupiah. Dampaknya, hampir semua perusahaan di Indonesia langsung tidak mampu bayar dan macet kredit,” tegas Rizal.

Rizal mengaku prihatin, dimana saat itu Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1998. “Krisis itu kalau kita tangani sendiri,yg tadinya tumbuh rata-rata 6%, ekonomi Indonesia paling akan anjlok 2 – 0 %. Akan tetapi, karena kita mengundang IMF, ekonomi Indonesia malah anjlok ke -13%. Kok IMF malah bikin lebih rusak?,” tukasnya. (Fel)

Komentar

News Feed