oleh

JK Ajak Masyarakat Jual Dolar AS, Pengamat: Giliran Susah Ajak Rakyat!

indonesiakita.co – Kondisi mata uang rupiah memang terus mengalami tekanan dari dolar Amerika Serikat (AS), bahkan, nilai tukar terharap mata uang negeri paman Sam tersebut mencapai Rp 14.900. Tentunya diharapkan pemerintah memiliki cara jitu dalam menghadapi masalah ini, guna tidak meresahkan masyarkat Indonesia.

Salah satu cara yang ditawarkan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) kepada masyarakat adalah dengan menjual dolar AS ke rupiah. Hal ini menurutnya dapat memperkuat di sektor perdagangan. “Ya itu bisa diimbau tapi mereka tahu kita cenderung bisa mengendalikannya. Yang simpan-simpan dolarnya nanti rugi belakangan,” ujarnya, di Kantornya, kemarin.

Dalam beberapa pekan, nilai mata uang dolar AS memang terus menguat. Mengutip data Bloomberg, Rupiah dibuka di level Rp 14.875 per USD atau menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin yang sempat menyentuh Rp 14.938 per USD. Usai pembukaan, Rupiah melemah tipis ke level Rp 14.890 per USD.

Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan stabil di kisaran Rp 14.700 per USD di akhir tahun. Hal ini didorong oleh konsumsi dalam negeri yang meningkat saat dimulainya kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres), libur Natal dan Tahun Baru.

Pemerhati sosial Universitas Bung Karno, Muda Saleh menyatakan, bahwa langkah yang disebutkan JK adalah sebuah langkah yang tepat dan bijak. Karena selain membangkitkan semangat nasionalisme kepada negara, menurutnya, salah satu negara di Asia yang memiliki cara jitu menanggulangi krisis yakni Korea Selatan.

“Mungkin maksudnya Pak JK kita mirip dengan Korea Selatan, dimana rakyat Korsel melakukan kampanye untuk mengumpulkan emas’ sebagai cara untuk membayar utang luar negeri, setidaknya kampanye itu diikuti 3 juta 500 ribu orang, dan saat itu mereka dipuji-puji dari seluruh dunia,” ujar Muda, kemarin di Jakarta.

Namun, Muda menyebutkan dalam kondisi saat ini, kurang tepat jika mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran dengan menjual dolar AS ke Amerika. “Loh, yang bikin susah itukan memang menteri kabinet Presiden Jokowi kan, impor beras, garam., gula, macam-macalah, akibatnya apa, kan setidaknya mempengaruhi kondisi ekonomi kita. La wong lagi enak-enaknya rakyat panen kok malah impor beras?, ini metode apa yang diterapkan?.

“Trus sekarang kondisi susah malah ajak jual dolar AS, siapa yang mau jual?, semua sekarang terlihat sangat hati-hati melangkah, apalagi dengan menghentikan ratusan komoditi impor sebagai langkah menahan Defisi Transaksi Berjalan, ya gak etis lah. Meski saya bukan pakar ekonomi setidaknya saya melihat, kebijakan menteri kabinet Jokowi jauh dari harapan yang diinginkan oleh para petani,” tegas Muda.

Muda juga menambahkah, kondisi sosial masyarkat Indonesia saat ini sedang bimbang. Karena menurutnya, banyak hal yang cenderung dapat mengganggu kondisi psikologis masyarakat terhadap sejumlah masalah yang disuguhkan memalui pemberitaan di berbagai media.

“Masyarakat kita sedang bimbang, mereka dihadapkan pada sejumlah masalah krusial di negeri ini. Kita lihat kasus korupsi tak ada henti-hentinya. Perdebatan saling-silang soal agama masih terus berlangsung. Sekarang rupiah melemah, harga pangan cenderung berubah dan stak stabil. Saya rasa, yang paling utama dilakukan pemerintah ya mengembalikan kepercayaan, dan mendengar masukan dari luar pemerintah. Kritik sudah banyak, jangan tersinggung.

“berbagai argumen soal data sudah hadir di media massa, dan berbagai hal lain yang seharunya saat ini didengar pemerintah. Buka kuping, lapang dada dan terima masukan dari pihak luar. Jika memang mau masyarkat kita tetap tenang dengan kondisi ini. Jangan enak-enak impor trus bikin susah petani, sekarang ajak rakyat jual dolar, sopo sing gelem (Siapa yang mau)?.. Kasihan presiden Jokowi, selalu nerima informasi yang baik-baik saja tentunya, saya yakin beliau mau mendengarkan dan mempertimbangkan langkah dan saran dari luar pemerintah. Sudah terlihat kok, tim ekonominya lemah,” tutup Muda. (Waw)

Komentar

News Feed