oleh

Dolar AS ‘Hantam’ Rupiah Nyaris Rp 15.000, Rizal Ramli: Menteri Jokowi Gak Punya Ide, Ribet Pula!

-Ekonomi-11.651 views

indonesiakita.co – Nilai tukar rupiah tampaknya menjadi trend topik di berbagai media dalam beberapa hari ini, karena jelas mengalami penurunan pada setiap harinya. Bahkan, pada Selasa (4/9/2018) kemarin, mata uang garuda mencapai Rp 14.935 per dolar Amerika Serikat.

Ekonom Senior Indonesia Rizal Ramli mengaku khawatir dengan kondisi ekonomi Indonesia dimana nilai tukar rupiah terus menerus tergerus oleh tekanan dolar AS. “Jangan sok bilang prudent (hati-hati) jika minus. Jangan kasih presiden Jokowi laporan baik-baik saja dan ABS (Asal Bapak Senang), kasih angka dong, jangan kata-kata,” ujarnya dalam sebuah sesi wawancara di sapa Malam, Kompastv, tadi malam.

Rizal mengingatkan, bahwa tim ekonomi pemerintah tak memiliki ramuan yang jitu, terhadap kondisi ekonomi saat ini, dimana memang banyak mencoba berbagai hal, termasuk salah satunya adalah menahan impor dari 500 komoditas menjadi 900 komoditas.

“Ini kok ribet banget ya, sampai mau inilah itulah, impor segala. Okelah kalau soal makanan, bahan baku. Tapi kalau mobil, bagaimana, sparepart dan komponen, begitu juga hanphone, inikan bisa dikenakan tarif. Tapi kalau mobil, saya gak yakin Sri Mulyani tahan laju impor, diakan komisaris Astra. sudah lah, daripada ngomongin yang kecil-kecil, fokus saja kepada top ten, yang intinya langsung,” tegasnya.

Presenter Liviana yang kembali menanyakan apa langkah terbaik yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah terkait kondisi ekonomi maupun dolar AS yang kian meraja lela, mantan anggota tim panel penasihat PBB itu mengaku telah banyak memberikan masukan, namun ditolak.

“Saat itu sayakan Menko Maritim, gak ada hubungannya sama ini, tapi kami ada di kabinet dan saya usulkan di rapat agar semua pendapatan ekspor Indonesia harus masuk ke sistem Bank kita dulu, baru mereka keluarkan. Ini sudah saya katakan kepada gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Menteri Darmin dan Menkeu, tapi saya ditolak. Ya sekarang begini jadinya,” tutup Rizal.

Sebagaimana diketahui, mata uang Garuda telah melemah pada perdagangan enam hari berturut-turut dan mencapai level yang belum pernah terlihat sejak krisis 1998 silam. Pada perdagangan kemarin, Senin (3/9/2018), rupiah ditutup melemah 0,71% atau 105 poin ke level Rp14.815 per dolar AS.

Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai level terendah sejak krisis 1998 ini. Pada Selasa (4/9/2018), Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memanggil para menteri ekonomi dan kepala lembaga ekonomi. Pemanggilan ini merupakan yang kedua setelah Presiden memanggil mereka pada Senin (13/9/2018). (Fel)

Komentar

News Feed