oleh

Sepakat dengan Rizal Ramli, PDIP: Pertahankan Sri Mulyani Kita Mati Semua!

indonesiakita.co – Politikus PDI Perjuangan, Effendi Simbolon tampaknya geram dengan ulah tim ekonomi pemerintahan Joko Widodo. Bahkan menurutnya, jika Menteri Keuangan Sri Mulyani tetap dipertahankan maka kondisi ekonomi Indonesia semakin parah.

“Jika masih dipertahankan.. waduh ini sangat memprihatinkan, itu artinya tetap menjaga kepentingan asing yang punya uang saja, Amerika, Eropa. Karena apa?.. mempertahankan Sri Mulyani sama saja kita terus di bawah belenggu rentenir!,” ujarnya di Gedung DPR, kemarin.

Adapun menurutnya, satu masalah besar Indonesia saat ini ketergantungan pada pinjaman. Nanti, ujung-ujungnya akan menjadi bom waktu bagi negara dan paling memprihatinkan dan membuat rakyat sengsara.

“Ketergantungan kita pada pinjam-meminjam itu sangat luar biasa. Harusnya kita ketergantungan kita kepada rakyat, yang bisa kita gali dari rakyat kita sendiri,” ketusnya.

Ia juga berharap agar Jokowi lebih cermat lagi mengangkat tim ekonomi pada periode keduanya. “Jadi, menurut saya, yang dikoreksi itu harusnya ekonomi kita, berapa triliun uang kita berputar. Berapa banyak kemudian yang dihambur hamburkan oleh para koruptor. Ini bukan memalukan, ini memprihatinkan,” sambungnya.

Kendati demikian, Effendi juga menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan adalah kritikan yang sesungguhnya terjadi.

“Ini bukan mengkritik pak Jokowi. Ini kenyataan pak. Ekonomi kita hancur, kita mati semua,” lanjutnya.

Dia mengusulkan agar orang yang diberi tanggung jawab di bidang ekonomi haruslah orang yang memiliki komitmen tinggi. Salah satunya, meningkatkan perekonomian Indonesia ke angka 7 persen.

“Artinya, ini yang dibenahi. Ini berkaitan harkat orang banyak. Ekonomi pak. Benahi semua untuk memastikan sampai ke 7 persen,” tutupnya.

Sebelumnya, ekonom senior Rizal Ramli menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ‘nyungsep’ hingga 4,5 persen.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini menilai bahwa hal tersebut jauh dari yang ditargetkan pemerintah 5,2 persen di tahun ini.

Selain itu, Rizal juga mengkritik kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan saat ini yang tidak mendukung pertumbuhan, seperti rencana tax amnesty kedua yang menguntungkan sebagian orang dan langkah penghematan atau austerity yang menurutnya akan menyengsarakan rakyat kecil.

“Seharusnya, pemerintah tidak mempertahankan cara lama dan malah mengganti target, tapi mengubah cara mengatasi krisis,” ujarnya, di Kawasan Tebet, beberapa waktu lalu.

Rizal juga mengatakan belum melihat rencana dan aksi agar Indonesia memanfaatkan perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China, yang seharusnya sudah dimiliki untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

“Trade crisis ini sudah diramalkan satu setengah tahun lalu, pemerintah Indonesia tidak punya plan, tidak ada action dantimeframe bagaimana kita menarik manfaat,” pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed