oleh

Soal Impor: Rizal Ramli Sebut Enggar Biang Keladi, Jokowi Justru Salahkan Ibu-ibu

-Ekonomi-2.423 views

indonesiakita.co – Presiden Joko Widodo menuding terjadinya defisit neraca perdagangan RI disebabkan karena ulah ibu-ibu yang suka menggunakan brand luar negeri. Menurutnya, hobi tersebut justru bersebrangan dengan langkah pemerintah dalam menangani soal impor.

“Ibu-ibu…kalau sudah pegang brand luar, senang banget, apa tas, sepatu, apa begitu. Kita kok senangnya impor impar impor impar, terutama ibu-ibu“ ujar Jokowi saat membuka acara Hari Belanja Diskon Indonesia di Senayan City, Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, Jokowi tidak membatasi keinginan masyarakat yang menggunakan barang impor selagi masyarakat memahami neraca perdagangan perlu dijaga salah satunya dengan mengurangi barang impor.

Jokowi menilai, kondisi tersebut dapat membuat defisit transaksi berjalan semakin bengkak. “Neraca perdagangan kita (Indonesia) masih defisit, defisit transaksi berjalan juga masih ‘gede’ ini,” sambungnya.

Selain itu, Jokowi juga meminta masyarakat mulai mengurangi impor dan beralih ke produk lokal. Toh, menurutnya, kualitas merek-merek lokal tidak kalah dari buatan luar negeri. “Di sini ada Mayora? Itu produknya sudah mengisi 60 persen masuk ke Filipina, seperti permen Kopiko, kopi Torabika,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, hal ini tentunya berbeda dengan apa yang dikatakan oleh ekonom senior Rizal Ramli. Dalam sebuah diskusi di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, ia menegaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 4,5 Persen.

Hal ini menurutnya terjadi karena adanya beberapa faktor, yakni salah satu ekonomi makro yang terus menurun seperti current account defisit (CAD) merosot ke USD 8 miliar. “Kami ingin mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan nyungsep, paling hanya 4,5 persen. Karena sampai sekarang pun baru 5,05 persen,” tegasnya.

Adapun menurutnya, hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah jangan sampai kondisi ini membuat Indonesia harus mengalami krisis seperti 1997 dan 1998.

“Indikator makro menunjukkan makin merosot. Grafik CAD makin merosot sampai terakhir USD 8 miliar. PDB juga meningkat lumayan besar dan ini membahayakan. Dulu juga terjadi 1998 kayak gini. Cuman seperti biasa pejabat kita kepedean sibuk bantah-bantah,” ketus Rizal.

Rizal juga menambahkan, pemerintah ke depan harus memperbaiki seluruh komponen ekonomi makro agar pertumbuhan semakin besar. Selain itu, dia juga meminta pemerintah tidak menjadikan ekonomi sebagai proyek.

“Saya ingin mengatakan bahwa ekonomi bukan proyek. Mohon maaf ekonomi bukan hanya itu, tapi indikator lain juga seperti daya beli, pekerjaan dan macam-macam. Kalau hanya proyek bisa jebol nanti,” lanjutnya.

Selain itu, Rizal juga menjelaskan adanya tumpang tindih antara dua kementerian, yakni Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Dimana menurutnya, di sejumlah negara dua lembaga tersebut digabungkan seperti halnya Ministry of International Trade and Industry (MITI). Hal ini penting karena menurutnya dua kementerian tersebut tak jauh berbeda jenis pekerjaannya.

“Perdagangan dan perindustrian itu pada dasarnya hampir sama, yang satu bicara industri, dan yang satu bicara perdagangan. Tapi yang terjadi industrinya kemana, perdagangan juga makin asik impor-impor barang, dan inilah yang menyebabkan terjadinya kerugian di sektor ekonomi kita. Makanya kalau mau memperbaiki di sektor perdagangan.. ya pecat saja Enggar!,” tukasnya.

Adapun alasan Rizal mengatakan hal tersebut karena menurutnya, kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita selalu merugikan masyarakat Indonesia, terutama para petani. “Ya.. bagaimana tidak, beberapa tahun lalu kan, musim hujan bagus, tapi impor pangan, terutama beras jor-joran, akibatnya apa, stok barang di Bulog berlebihan, harga beras kita jatuh, yang dirugikan petani.. kok gak mikir,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed