oleh

Sri Mulyani Ribet Soal BUMN, Rizal Ramli: Situ Ngerti Soal Ekonomi Konstitusi?

indonesiakita.co – Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyebutkan bahwa peranan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dominan di dalam perekonomian bisa menghambat masuknya investasi asing mendapat tanggapan dari ekonom senior Rizal Ramli. Mantan Menko Ekuin era Gusdur ini menyebut analisa Sri semakin ngawur.

“Kok makin lama analisanya makin ngawur. Inefisiensi dan management BUMN yg jadi masalah, itu yg harus dibenahi!,” ujar Rizal, dikutip dari akun Twitternya @RamliRizal.

Dimana memang, Sri menilai bahwa, investor asing dipandang tak akan mau membawa aliran investasi ke Indonesia jika lingkungan bisnis tidak kompetitif.

Selain itu menurutnya, penanaman Modal Asing (PMA) masih merupakan faktor krusial bagi Indonesia lantaran mereka memiliki teknologi yang bisa menciptakan nilai tambah ekonomi. Jika PMA terhambat, kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas tidak akan tercipta jika pemerintah dan BUMN intervensi di struktur perekonomian Indonesia.

“Dan ini memang tengah menjadi isu bagi kami karena kalau mau meningkatkan produktivitas, maka PMA akan sangat penting. Tapi, investasi tidak mau masuk kalau negara dan BUMN terlalu mendominasi,” jelas Sri Mulyani, Kamis (1/8) kemarin.

Namun demikian, Rizal Ramli menyebutkan bahwa seharusnya BUMN lebih mementingkan keuntungan bagi dalam negeri, bukanlah untuk pihak asing.

“Ekonomi konstitusi memang anjurkan BUMN yg effisien. Jangan hambat BUMN sekedar buat bikin senang asing,” tegas Rizal.

Adapun selain itu, Sri Mulyani mengungkapkan isu dominansi peran BUMN memang sempat menjadi perhatian pemerintah setelah pelaku usaha juga sempat mengeluhkan hal serupa. Untuk itu, menurutnya, diperlukan kalibrasi ulang mengenai peran BUMN di dalam aktivitas perekonomian agar iklim investasi di Indonesia kian menarik.

“Memang harus ada kompetisi bisnis yang baik di dalam negeri apalagi dengan momentum yang sedang baik. Ketidakpastian ekonomi global mulai mereda, suku bunga juga semakin menurun, sehingga Indonesia perlu memberikan daya tarik yang lebih dibanding negara berkembang yang lain,” tutupnya.

Sosok yang disebut-sebut sebagai menteri terbaik ini juga menambahkan, bahwa partisipasi perusahaan pelat merah masih dibutuhkan untuk melakukan penugasan yang memang tidak bisa dilakukan oleh pihak swasta.

“Sebenarnya, kalau kami lihat ke depan, seharusnya ada ruang bagi swasta dan ruang bagi BUMN. Jadi yang terpenting adalah bagaimana menciptakan proses agar peranan antara swasta dan BUMN ini bisa seimbang,” tuturnya.

Namun demikian, Rizal meminta agar Sri tak perlu mengurus hal yang tak dikuasainya, karena menurutnya kebijakan yang diberikan Sri cenderung merugikan rakyat.

“Udah ngurus ekonomi ndak becus, kerjanya hanya nambah utang bunga tinggi dan malakin rakyat dgn jenis2 pajak sing printil.. Apa situ sdh ngerti dan jalankan ekonomi konstitusi ??,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed