oleh

Sri Mulyani Ternyata Ekonom Kolonial

-Opini-3.205 views

indonesiakita.co – Oleh: Arief Gunawan, Wartawan Senior. Intelektual Indonesia di masa perjuangan kemerdekaan marah besar waktu ada ekonom kolonial mengatakan rakyat cukup hidup dengan biaya sebenggol sehari.

Sebenggol sama dengan dua setengah sen gulden sehari. Sangat jauh dari kelayakan hidup saat itu, yang apabila digambarkan dengan kesulitan hidup rakyat di lapisan bawah saat ini sama tertekannya. 

Tertekan oleh harga-harga kebutuhan seperti tarif listrik, kontrak rumah, uang bensin, ongkos angkutan umum, biaya pendidikan, dan sembako untuk makan sehari-hari.

Kenyataan pula banyak rakyat di lapisan bawah saat ini yang tiga kali sehari hanya mampu makan mie instan sebagai pengisi perut anak-istri.

Hatta, Sukarno, dan lain-lain waktu itu marah sekali. Mereka protes. Sukarno misalnya menulis sebuah artikel, berjudul: 

“Orang Indonesia Cukup Nafkahnya Sebenggol Sehari…?”

Menteri Keuangan Sri Mulyani yang merupakan ekonom neoliberal pada dasarnya mewarisi ciri ekonom kolonial yang tidak punya empati dan tidak punya terobosan dalam usaha mengangkat kesejahteraan mayoritas rakyat negeri ini. 

Sebagai intelek Sri dianggap sudah tidak tau malu meski bertubi-tubi dikritik atas kegagalan berbagai kebijakannya, sehingga sampai-sampai Profesor Anwar Nasution menyebut Sri Menteri Batok Kelapa, karena “piawai” dalam urusan mengutang sangat menonjol.

Di Zaman Malaise batok kelapa merupakan atribut tukang minta-minta, yaitu orang yang lebih suka mengemis karena kemalasan dan tiadanya kehendak menggunakan akal pikiran secara mandiri.

Ada pun Ketua DPR Bambang Soesatyo menyebut Sri Mulyani Sales Promotion Girl IMF & Bank Dunia. Istilah lain untuknya: High Cost Borrowing Operator, untungkan investor surat utang dan selalu kasih bunga utang ketinggian kepada para kreditor. Untuk ini Sri mendapatkan pujian dari asing dan aseng.

Sedangkan kepada rakyat kecil Sri Mulyani pungut pajak yang menginjak ala kolonial, mulai dari pajak pecel lele, pajak lipstik, pajak tasbih, dan pajak produk-produk kecil lainnya. 

Van Den Bosch juga ekonom kolonial. Datang kesini karena Belanda tekor akibat Perang Jawa (1825-1830) dan dibebani utang yang menumpuk.

Rakyat pribumi dipaksa tanam komoditi pangan ekspor. Gula, kopi, teh, dan sebagainya. Petani dipungut pajak, sehingga makin melarat. Tidak ubahnya hari ini.

Van Den Bosch dipuji Ratu. Sedangkan para bupati komparador pendukung tanam paksa dikasih hadiah dan naik pangkat. Saking girang dan biasa menjilat mereka menyebut Gubernur Jenderal Van Den Bosch dengan sebutan Eyang Romo.

Sri Mulyani juga senang dipuji asing. Padahal rakyat tidak pernah tau apa prestasi dan keberpihakannya. Apa pengaruhnya terhadap kesejahteraan mayoritas rakyat, dan peningkatan ekonomi nasional selama sekian tahun dia hilir-mudik di kabinet.

Menteri Keuangan dengan ciri ekonom kolonial kalau terus diawetkan bakal mempercepat kebangkrutan Indonesia. Kebijakannya sampai kiamat akan terus meniru Van Den Bosch atau Romusha, yang dalam versi sekarang IMF & World Bank.

Negeri dan bangsa ini butuh tokoh kognitariat (pekerja otak) dengan ciri kemampuan problem solver, patriot, dan berani membela kepentingan mayoritas rakyat. 

Sebab soal-soal ekonomi ini masalah fatal yang segera menyeret ke dalam kehancuran. 

Perekonomian nasional yang makin rusak tak bisa diselesaikan dengan mindset kolonial, IMF & Bank Dunia, sehingga diperlukan terobosan. 

Apalagi berlangsung di antara konflik geoekonomi global, dimana mulut sang naga merah siap mencaplok di belakang kita.

Komentar

News Feed