oleh

Tim Hukum 02: Saksi Ahli Kami Tak Bisa Dilawan MK!

indonesiakita.co – Ketua tim hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto menyebutkan, bahwa ahli yang dihadirkan dalam sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) sulit dibantah. Karena menurutnya, ahli tersebut merupakan pakar di bidang scientific forensic.

Adapun keduanya yakni, aswar Koto dan Soegianto Soelistiono. “Kami ajukan saksi ahli yang wow, tidak bisa dilawan di MK,” ucap Bambang di Media Center BPN Prabowo-Sandi, kemarin.

Selain itu menurutnya, keduanya mampu menjelaskan, bagaimana terjadi kecurangan dalam Pilpres. Mantan pimpinan KPK inipun menambahkan, baru kali ini audit forensik dilakukan oleh ahli dalam sidang sengketa pilpres di MK.

“Pernah enggak sengketa hasil presiden itu menghadirkan hasil forensik? Pernah enggak ada ahli yang mengungkap kecurangan dengan metode forensik? Mempersoalkan sistem teknologi informasi dari KPU yang bermasalah?”

“Tentu saja sebagian lawyer yang tidak paham beginian menganggap itu biasa saja. Tapi lawyer yang cerdas dan paham mengatakan itu sesuatu yang belum pernah terjadi selama ini,” tegasnya.

Bambang juga mempertanyakan kualitas saksi dan ahli yang dihadirkan tim hukum KPU dan TKN Jokowi-Ma’ruf dan menurutnya, mereka tidak sebanding dengan ahli dari BPN.

Bambang mengatakan ahli yang dihadirkan Tim Hukum TKN Jokowi-Ma’ruf justru memberi contoh yang salah ketika membandingkan pembuktian kecurangan terstruktur, sistematis dan masif di Pilpres 2019 dengan kasus di Kamboja.

Bambang mengatakan kasus di Kamboja yang disinggung ahli dari Tim hukum TKN Jokowi-Ma’ruf intelectual discourse, sementara persidangan MK digolongkan sebagai speedy trial.

“Dalam speedy trial salah satu yang harus dipakai menggunakan investigation scientific research. Bukan pembuktian yang sangat old fashion. Kami mengajukan ini ada argumennya bukti tertulis,” ucap Bambang.

“Ahli dari mereka kolega UGM mengutip saja sudah salah, pembuktian TSM berbasis gross violence of human rights dengan menghubungkan di Kamboja itu salah kaprah,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed