oleh

Analis Ekonomi: Utang Pemerintah Rp 1 Triliun Per Hari, Menkeu Korbankan Hak Rakyat!

indonesiakita.co – Analis ekonomi Gede Sandra menanggapi kondisi utang pemerintah yang semakin hari kian bertambah. Terhitung, sampai hingga 2018, utang masih mencapai Rp 4.571,89 triliun.

“Artinya bila dibagi dengan 365 hari setiap harinya utang bertumbuh Rp 1,1 triliun. Pertumbuhan utang pemerintah tersebut sendiri adalah sebesar 9,6%, hampir dua kali lipat pertumbuhan ekonomi, sungguh fantastis,” ujarnya saat dihubungi melalui ponselnya, hari ini.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Kementerian Keuangan, Jumat (21/6/2019), posisi utang tersebut naik Rp 43,44 triliun jika dibandingkan posisi April 2019 yang nilainya Rp 4.528,45 triliun.

“Saya kagum, ternyata semenjak masuk di Kabinet, Sri Mulyani secara konsisten sukses mempertahankan dua rekor : Pertama.pertumbuhan utang pemerintah di atas Rp 1 triliun/hari. Kedua. Pertumbuhan utang selalu melebihi pertumbuhan ekonomi. Memang pas dinobatkan sebagai ratu utang, apalagi mengingat bunga utang yang diberikan Sri Mulyani adalah termasuk yang tertinggi di kawasan Asia” jelasnya.

Padahal, apabila dibandingkan dengan posisi Mei 2018 lalu yang jumlahnya Rp 4.169,09 triliun, utang pemerintah hingga akhir Mei 2019 naik Rp 402 triliun. Dimana, utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp 782,54 triliun dan surat berharga negara sebesar Rp 3.776,12 triliun.

“Melihat rincian belanja pemerintah pusat hingga Juni 2019 yang menyebutkan Pembayaran Bunga Utang : Rp 127,1 triliun yang tumbuh positif 13,0% dan sebaliknya Subsidi : Rp 50,6 triliun yang tumbuh negatif 17,0%— artinya subsidi yang menjadi hak untuk rakyat Indonesia (yang masih sulit hidupnya) dikorbankan Sri Mulyani untuk bayar bunga utang bagi para investor kaya raya” tambah Gede.

Sebagai informasi, bahwa utang untuk pinjaman, terdiri dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 775,64 triliun, pinjaman bilateral Rp 319,68 triliun, multilateral Rp 417,23 triliun, dan komersial Rp 38,73 triliun. Kemudian, ada juga pinjaman dalam negeri Rp 6,9 triliun.

Selain itu, utang berupa surat berharga negara, terdiri dari denominasi rupiah sebesar Rp 2.741,10 triliun. Lebih rinci lagi untuk denominasi rupiah terdiri dari surat utang konvensional sebesar Rp 2.290,44 triliun dan surat utang syariah sebesar Rp 450,67 triliun.

Adapun, untuk surat utang valuta asing nilainya Rp 1.048,25 triliun, yang terdiri dari surat utang konvensional Rp 829,60 triliun dan surat utang syariah Rp 218,65 triliun.

Alhasil, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 29,72%.

“Dengan keberadaan Sri Mulyani di kabinet, menegaskan bahwa model neoliberalisme yang bertumpu pada austerity policy akan terus dipertahankan pemerintah Jokowi di periode keduanya. Jadi non sense, omong kosong, bila Sri Mulyani katakan Indonesia akan ganti arah ekonomi mengikuti model Asia seperti Korea Selatan atau Jepang,” tegasnya lagi.

Lalu, bagaimana cara pemerintah membayar bunga utang sebesar Rp 127,1 triliun?. Meski pembayaran bunga utang, kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tumbuh 13% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni ketika bunga utang yang dibayar pemerintah sebesar Rp 112,5 triliun.

“Jadi menurut saya…berhati-hatilah pada pemimpin pejabat yang antara kata-kata dan perbuatannya bertolak belakang. Pidatonya boleh manis, tapi tindakannya kepada rakyat sangat sadis,” tukasnya. (Fel)

Komentar

News Feed