oleh

Tak Ada Unsur Makar di Pidato Sofyan Jacob!

-News-1.743 views

indonesiakita.co – Mantan Kapolda Metro Jaya Komjen (purn) Sofayan Jacob membantah adanya pemufakatan makar saat melakukan orasi di kediaman Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara, beberapa waktu lalu. Hal ini terungkap saat pemeriksaan di Polda Metro Jaya.

Kuasa hukum Sofyan, yakni Muhammad Yani mengatakan, bahwa pidato Sofyan tidak memenuhi unsur makar. “Kalau menurut kami dari pidatonya Pak Sofyan yang jadi rujukan pada 17 April 2019, belum ada memenuhi unsur kualifikasi pasal-pasal yang dimaksudkan,” ujarnya, kemarin.

Sebelumnya, polisi mengklaim memiliki sejumlah bukti. Namun demikian, pihak Sofyan tak meyakini bahwa pihak kepolisian memiliki bukti kuat menjerat kliennya dengan kasus makar. “Nah, kita tidak tahu apakah penyidik mempunyai bukti-bukti yang lain. Karena, menetapkan orang sebagai tersangka apalagi kasus makar ini kan ngeri-ngeri sedap kasus ini,” tegasnya.

Selain itu, ia juga meminta polisi membeberkan bukti-bukti apa saja yang menjadi kualifikasi kuat menetapkan Sofyan Jacob sebagai tersangka dugaan makar. Kemudian, alat bukti yang didapat harus diikuti dengan permulaan perbuatan oleh seseorang yang disangkakan.

“Banyak ahli pidana menyatakan tidak masuk kualifikasi makar. Ini kan kebebasan berserikat, berekspresi. Apalagi dalam kontestasi pilpres. Jadi, pada 17 April kan sejumlah survei mengumumkan hasil penghitungan sementara. Pertanyaannya atas dasar apa juga quick count mengumumkan,” tukasnya.
 
Ahmad Yani menjelaskan, Sofjan berorasi di Kertanegara hanya untuk menenangkan para pendukung agar tidak mempercayai hasil penghitungan cepat atau quick count Pilpres 2019 yang sementara dimenangkan oleh paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Berdasarkan data yang Pak Sofyan dapat input dari BPN, yang menang adalah 02. Kalau hanya dikatakan yang menang 02, itu masih dalam konteks pilpres. Jadi agak sulit jika menggunakan pasal makar. Makar itu kan merongrong pemerintahan yang sah. Sekarang ini kan Pak Jokowi adalah capres, bukan sebagai presiden. Itu yang harus dibedakan,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed