oleh

Polemik Maskapai Asing, Rizal Ramli: Harga Turun, Setelah Dikuasai Naik Lagi!

-Ekonomi, Headline-12.357 views

indonesiakita.co – Pemerintah terlihat seperti kehabisan akal bagaimana caranya menurunkan harga tiket pesawat terbang. Bahkan jelang lebaran tahun ini, jumlah penumpang yang menggunakan jasa transportasi udara tersebut anjlok hingga mencapai 33 persen.

Kini, presiden Jokowi berencana mengundang sejumlah maskapai asing untuk masuk ke pasar domestik untuk menurunkan harga tiket pesawat. Menanggapi hal ini, ekonom senior Rizal Ramli menyatakan, bahwa maskapai penerbangan domestik di kebanyakan negara tidak diperuntukkan untuk maskapai asing.

“Waktu itu saya Menko Ekuin di era Gusdur, saat itu penumpang pesawat turun hingga 60 persen karena dampak krisis 1998. Pilihan saya sangat sederhana, yakni undang saja maskapai asing, pasti beres dan tidak ada masalah,” ujarnya, dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun TV swasta malam ini.

Namun demikian menurutnya, langkah tersebut tidak diambil karena mengingat pasar domestik harus dikuasai oleh maskapai lokal. “Tetapi, kami gak ingin itu terjadi, karena kalau dilakukan pasar domestik dikuasai oleh asing… ini terjadi di Amerika, Jepang, Australia yang memberikan keleluasaan maskapai domestik dan tidak dikuasai oleh maskapai asing,” tambahnya.

Rizal juga menyatakan, bahwa total jumlah penumpang pada sekitar tahun 2000 mengalami kenaikan sebanyak 7 kali ketimbang tahun ini. “Dua masakapai kita yakni Garuda dan Lion Group cukup terbesar di Asia. Jadi kalau kasih izin maskapai asing, harus dipikir dulu dampaknya.

“Harga untuk sementara mereka akan turunkan, tapi pada saat mereka kuasai.. mereka akan kembali naikin lagi, dan dalam proses manfaat ekonomis kegiatan airlines ini Indonesia gak akan dapat manfaatnya.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini menjelaskan, bahwa banyak cara lain untuk mengatasi masalah penerbangan di Indonesia. “Mengapa Masalah utang menjadi banyak?… karena dua-duanya (Garuda dan Lion Air) itu jor-joran ekspansi dengan utang yang sangat besar..Lion Air beli 400 pesawat lebih.. Garuda 200 pesawat (kalau tidak salah). Akibatnya dua perusahaan ini kesulitan cahs-flow,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed