oleh

APBN Jebol dan Utang Merongrong, Masyarakat Masih Percaya Jokowi, Ada Apa?

indonesiakita.co – Mantan Menteri Keuangan Indonesia era Kabinet Orde Baru yakni Fuad Bawazier memastikan bahwa kondisi APBN dalam keadaan memprihatinkan. Ia juga menyebutkan bahwa saat ini defisit APBN terus mengalami kenaikan sehingga harus ditopang oleh utang.

Terlebih diketahui, pemerintah pun membayar THR para pegawai negeri sipil (PNS) dengan menggunakan utang.

“Ekonomi dan keuangan negara (APBN) yang sedang berat dan dalam tekanan yang luar biasa. Dalam empat bulan ini penerimaan pajak hanya naik satu persen sementara targetnya dalam APBN naik 20 persen. Makanya defisit APBN terus menggelembung sehingga mau tidak mau harus ditopang dari utang,” ujarnya, dikutip dari keterangn tertulisnya, Jum’at 31/5/2019 lalu.

Ia menilai, tanpa utang pemerintahan tidak jalan karena kekurangan dana. “Dalam empat bulan ini defisit APBN sudah mendekati Rp 300 triliun,” jelasnya.

Untuk itu, Fuad meminta agar batasan utang tidak semata-mata diukur dari rasionya terhadap PDB tapi yang lebih penting adalah dari kemampuan APBN membayar yang diukur dari pemasukan negara dari pajak. Kini, pertumbuhan utang lebih tinggi dari pertumbuhan penerimaan pajak.

“Sementara itu pemerintah belum merumuskan terobosan darurat apa yang perlu diambil selain dari menarik utang baru, masih business as usual. Jelas utang kita semakin membengkak dan ber-bunga mahal, dan cepat atau lambat akan kesulitan mencari utang di pasar bebas, karena kreditur akan was-was kalau kalau pemerintah nantinya gagal atau kesulitan membayar cicilan dan bunganya,” tambahnya.

Adapu saat ini menurutnya, utang-utang yang jatuh tempo praktis dibayar dengan utang baru alias gali lubang tutup lubang.

“Untuk menambah cadangan devisa dan menjaga nilai tukar rupiah, pemerintah juga berusaha keras menarik utang barunya dalam valas.”

Sementara itu, Fuad melanjutkan defisit transaksi berjalan di tahun 2019 ini (sampai dengan April) sudah mencapai US$ 7 miliar dan nampaknya akan terus memburuk sejalan dengan geliat perdagangan Internasional yang memburuk dan volume ekspor-import Indonesia yang cenderung defisit.

“Dalam bulan April 2019 ini saja defisit Neraca Perdagangan mencapai US$ 2,5 miliar. Dengan demikian kurs rupiah semakin melemah,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed