oleh

Jaksa KPK Sebut Menteri Jokowi Ini Terlibat Pemufakatan Jahat Soal Dana Hibah KONI

-Olahraga-530 views

indonesiakita.co – Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ronald F Worotikan membacakan surat tuntutan untuk terdakwa Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengatakan, bahwa Johny pernah melakukan transfer waktu Miftahul Ulum menelponnya saat berada di Papua dan Ulum berada di Jeddah.

Setelah Johny berkordinasi dengan Ending Fuad Hamidy, Johny kemudian ditransfer Rp 20 juta saat berada di Papua. Kemudian, setelah kembali ke Jakarta Johny kemudian melapor kepada Ending dan melakukan transfer lagi sejumlah Rp 30 juta.

Adapun menurut Jaksa total yang ditransfer oleh Johny atas permintaan Miftahul Ulum adalah Rp 50 juta yang dilakukan sekira akhir bulan November sampai awal bulan Desember 2018.

Dimana, keterangan tersebut diperkuat oleh keterangan saksi dari pihak Bank BNI yang menunjukan adanya bukti penarikan uang dari rekening dimaksud. Hal itu disebutkan saat pembacaan surat tuntutan untuk terdakwa Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Kamis (9/5/2019) kemarin.

“Penarikan tersebut bertepatan waktunya dengan pengakuan saksi Ulum yaitu sekira akhir November 2018 dirinya sedang mendampingi Imam Nahrowi terkait undangan federasi Paralayang di Jeddah sekaligus melaksanakan Ibadah umroh bemama-sama dengan Imam Nahrowi dan beberapa pejabat di Kemenpora RI,” ujar Ronald di persidangan.

Dari keterangan sakst-saksi dan alat bukti berupa buku tabungan Bank atas nama terdakwa beserta rekening korannya dan bukti berupa kartu ATM yang pernah diserahkan oleh terdakwa kepada Ulum serta alat bukti elektronik berupa rekaman percakapan sebagaimana telah diuraikan diatas yang satu sama lain saling berkaitan.

Maka menurut Jaksa bantahan yang dilakukan oleh Ulum, Arief Susanto, dan Imam Nahrowi di sidang sebelumnya menjadi tidak relevan dan patutlah dikesampingkan.

“Bahkan menurut pandangan kami selaku penuntut umum dari adanya keterkaitan antara bukti satu dengan yang lainnya menunjukan adanya bukti dan fakta hukum tentang adanya keikutsertaan dari para saksi tersebut dalam suatu kejahatan yang termasuk ke dalam pemufakatan jahat yang dilakukan secara diam-diam atau yang dikenal dengan istilah sukzessive mittaterschaft,” tegas Ronald.

Diketahui, Bendahara Umum KONI, Jhonny E Awuy dan Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy didakwa secara bersama-sama menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanto pada sidang pembacaan dakwaan, Senin (11/3/2019).

KPK sebelumnya telah menetapkan 5 orang tersangka yaitu Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy sebagai tersangka pemberi.
Kemudian tersangka penerima suap ialah Deputi IV Kemenpora Mulyana, PPK pada Kemenpora Adhi Purnomo dkk, serta staf Kemenpora Eko Triyanto.

Berdasarkan surat dakwaan, Jhonny memberikan 1 unit Toyota Fortuner hitam dan uang Rp 300 juta kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana diberikan kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp 100 juta.

Selain itu, Jhonny memberikan ponsel merek Samsung Galaxy Note 9 kepada Mulyana.
Jaksa menduga pemberian hadiah berupa uang dan barang itu bertujuan supaya Mulyana membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora RI yang akan diberikan kepada KONI.

Komentar

News Feed