oleh

Tak Ada Anarcho Syndicalism di Indonesia!

-Opini-573 views

Oleh Muda Saleh (Analis Sosial Universitas Bung Karno/UBK). Aksi massa sejumlah remaja yang terjadi di Bandung, Jawa Barat, maupun Jakarta pada saat perayaan May Day, 1 Mei 2019 lalu masih menjadi sorotan publik. Terlebih adanya kericuhan di Bandung, dan terjadi perusakan terhadap pagar Transjakarta di kawasan Tosari, Jakarta Pusat oleh kelompok massa yang masih dalam kategori remaja.

Kini, yang menjadi isu hangat adalah adanya Anarcho-Syndicalism, dimana ada sejumlah anak remaja yang beberapa diantaranya menggunakan kaos bertulskan logo “A” yang menggambarkan simbol Anarcho Syndicalism.

Ini terlalu berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa kelompok tersebut tumbuh di Indonesia. Terlebih melibatkan anak-anak remaja.

Saya berharap semua pihak berfikir jernih tentang adanya isu Anarcho Syndicalism ini. Logo A yang digunakan anak remaja yang diamankan bukanlah merupakan geng atau kelompok anarcho syndicalism seperti kebanyakan yang ada para kebanyakan kelompok buruh di Eropa, saya masih meyakini itu adalah slogan-slogan yang juga sering dipakai oleh group band Punk, di Inggris, Jerman dan Amerika.

Sampai saat ini, saya masih menyukai musik punk, dan aliran ini saya kenal sejak tahun 1994. Coba saja lihat, ada Sex Pistol, Dead Kennedy, Exploited, Casualties, Minor Threat, Sham 69, yang rata-rata band-band ini menyuarakan keadilan, bukan kerusuhan, musik dan lirik yang mereka keluarkan adalah keyakinan mereka atas apa yang mereka rasakan terhadap rezim, atau lihat saja aksi penonton mereka yang sering disebut ‘Poggo’ itu berbenturan antara satu dengan lainya, begitu juga di kelompok musik metal, ada head bangerm Meski saya juga suka Jazz, Rock dan Reggae.

Adapun di Indonesia, nyaris seperti logo ‘A’ ada pada group band Marjinal. Lalu pertanyaaannya apakah band Marjinal itu sekumpulan begundal, anak-anak nakal yang ingin mengubah generasi muda menjadi pemberontak?, saya rasa tidak, saya pernah bertemu dengan mereka, justru mereka itu membuat kelompok kreativitas dari bahan-bahan tak terpakai menjadi uang. bisa dilihat lirik-lirik lagu mereka, tak jauh berbeda dengan lirik Iwan Fals di tahun 80-90, isinya mengkritik kebijakan pemerintah, ketidak adilan, kesama-rataan atas hak sebagai warga negara, Marjinal itu justru sekumpulan anak-anak muda yang sangat cerdas!.

Institusi keamanan, lembaga keamanan di Indonesia terlalu terburu-buru jika menyebut kaos yang dipakai anak remaja di Bandung atau Jakarta, seolah-olah merupakan gerakan anarcho syndicalism. Pakaian hitam itu adalah favorit anak remaja diusia 16-35 tahun, terutama anak-anak yang menyukai musik punk, metal, nyaris indentik warna mereka hitam.

Kalaupun ada perusakan yang terjadi pada perayaan May Day lalu, itu hanya sebatas ketidak puasan seorang remaja atas emosi yang masih belum stabil.
Selain itu, jika ada kesamaan yang terjadi antara Indonesia, dan di Eropa dalam waktu yang sama, ini semata karena moment May Day, dimana hari buruh semua pekerja berunjuk rasa. Dan ini menandakan bahwa generasi muda di Indonesia ‘peka’ dan mereka telah paham akan kondisi yang terjadi di negaranya.

Ini masa Pemilu, dimana banyak pihak yang menyerukan adanya indikasi kecurangan dalam perhitungan suara. Jadi jangan nanti tiba-tiba ada peraturan baru untuk mencegah adanya keinginan masyarakat yang ingin menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap adanya indikasi kecurangan, lalu sikap protes dikaitkan dengan anarcho syndicalist, jangan dipicu, kasihan masyarakat Indonesia, lebih baik kita berfikir soal bagaimana mencegah agar tidak bertambahnya korban berjatuhan para petugas Pemilu yang telah berjumlah 300 orang lebih.

Jakarta (3/5/2019)

Muda Saleh (Analis Sosial Universitas Bung Karno/UBK)

Komentar

News Feed