oleh

Rizal Ramli Sebut Pemerintah ‘Gagal Paham’ Soal Industri Penerbangan

-Ekonomi, Headline-1.827 views

indonesiakita.co – Kisruh laporan Keuangan Maskapai penerbangan Garuda Indonesia tahun 2018 masih menjadi sorotan publik. Namun, yang menjadi perhatian bagi ekonom senior Rizal Ramli bukan hanya hal itu saja, melainkan adanya kesalahan cara pandang dalam industri penerbangan yang dimaknai oleh pemerintah.

Rizal menjelaskan, bahwa saat ini industri penerbangan di Indonesia tak lagi kompetitif, melainkan duopoly (pasar yang dikuasai dua perusahaan-red). “Hari ini industri penerbangan pada dasarnya duopoly, Garuda Grup dan Lion Group. Kalau duopoly pemerintah kebijakannya harus jelas, karena kalau tidak yang dirugikan konsumen,” ungkap Rizal, dalam sebuah dialog di Indonesia Business Forum, di stasiun tv swasta nasional, tadi malam.

Ia menjelaskan, bahwa banyak hal yang seharusnya dipahami oleh pemerintah terkait industri penerbangan. “Saat ini tiket price (Harga tiket-red) hampir naik 100% begitu juga dengan kargo. Dalam konteks duopoly industri sangat jelas berbeda dengan kompetitif industri,” sambung Rizal.

Sosok yang akrab disapa ‘RR’ ini pun menceritakan bagaimana era pemerintah sebelumnya telah membuka sebanyak 6 perusahaan penerbangan, dimana saat itu ada persaingan diantara satu dengan lainnya. “Tapi karena ada 6 pemain baru yang ikut kompetisi, akibatnya ticket price turun perkilo meter per-passenger 60%, akhirnya apa?… yang tadinya rakyat gak bisa naik pesawat akhirnya bisa naik pesawat. Bahkan saat ini, total penumpang kita 7 kali dari pada tahun 97, dan industri penerbangan kita bisa dikatakan terbesar di asia,” jelasnya.

Rizal juga menambahkan, bahwa saat ini pemerintah masih menganggap industri penerbangan di Indonesia masih bersifat kompetitif. “Tetapi sekarang strukturnya beda, bukan kompetitif lagi tapi duopoly, pemerintah menganggap ini kompetitif, bisanya hanya menghimbau saja, kalau cuma menghimbau tiket gak akan pernah turun,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, jauh sebelumnya, mantan Menko Ekuin di era presiden almarhum Gus Dur ini pernah menyelamatkan Garuda Indonesia dari kebangkrutan. Hal ini ia ungkapkan, pada saat melakukan diskusi di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, sebelum kisruh laporan keuangan Garuda ini muncul di permukaaan.

Dimana saat itu, Garuda terlilit utang US$ 1,8 miliar. Jika tidak dibayar, konsorsium bank Eropa yang memberi pinjaman akan menarik pesawat-pesawat Garuda.

“Pemerintah, kemudian mengancam konsorsium bank ke pengadilan. Lantaran, pesawat yang dibeli Garuda kala itu hasil penggelembungan atau mark up. Kami katakan kami akan tuntut di pengadilan Frankfurt karena saudara konsorsium bank itu membiayai mark up pembelian pesawat keluarga presiden. Harusnya 100 naikin 50. Saudara kasih kredit,” ujarnya kepada wartawan, dalam diskusi Politik Pembangunan Infrastruktur di Jakarta, Kamis (28/3/2019) lalu.

Setelah ancaman tersebut jelas Rizal, konsorsium bank meminta damai. “Dia bilang, kondisi Garuda sebenarnya tidak masalah jika pembelian pesawatnya tidak di mark up. Namun, pada saat berada dalam kabinet Jokowi, Rizal mengaku meminta kepada Jokowi untuk membatalkan pesanan pesawat karena dianggap membahayakan. “Menjelang saya masuk, saya ketemu Pak Jokowi ‘Mas, Garuda sudah bahaya lagi, harus di-cancel pembelian pesawat,” tegas Rizal, saat itu.

Komentar

News Feed