oleh

Laporan Keuangan Garuda, Rizal Ramli: Menterinya Gak Paham, Malah Nambahin ‘Cost’ untuk Politik!

-Ekonomi, Headline-1.633 views

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli menanggapi masalah yang terjadi dalam polemik laporan keuangan tahunan 2018 maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Ia mengatakan, bahwa Kondisi yang terjadi pada laporan tersebut melalukan, karena terindikasi adanya rekayasa dalam angka keuntungan yang ditampilkan.

Rizal menceritakan, bagaimana kondisi Garuda pada tahun 2000-an lalu. “Saya cerita satu hal tahun 2000-an Garuda gak mampu bayar kepada kreditor, 1,8 miliar dolar AS, konsorsium bank Jerman dan lainnya, pesawat Garuda nyaris disita, kami kemudian melakukan langkah renegosiasi dengan para kreditor,” ujarnya, dalam sebuah diskusi Indonesia Bisnis Forum, di salah satu tv swasta nasional malam ini.

Ia mengaku sempat memberi selamat melalui akun sosial media miliknya, terhadap laporan keuntungan Garuda. “Menurut saya adanya rekayasa laporan keuangan ini sangat memalukan, dan saya cuma merasa ketipu dengan informasi keuntungan ini, dan saya sempat mengucapkan selamat, tapi saya tarik lagi.

“Karena ini bikin malu, cuma rekayasa, karena siapapun yang pernah kerja disana tau pasti ada hal hal yang tidak wajar dilakukan, dan menurut saya direksi dirut keuangan harus bertanggung jawab,” Tegas Rizal.

Adapun demikian, Rizal sempat memuji bahwa Garuda memiliki perkembangan signifikan, pada saat melakukan kerjasama dengan Sriwijaya. “Mula-mula sahamnya bisa naik, waktu ada kerjasama dengan sriwijaya, karena akan lebih besar market sharenya, tapi pas ada kabar ini jadi rusak. Dan saya berharap ini harus diaudit, diperiksa perusahaan abal-abal yang 15 miliar ini kok bisa janjikan pendapatan yang segini besarnya,” jelas, mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini.

Menurutnya, BUMN saat ini tidak memiliki cara tepat dalam memperbaiki maskapai Garuda Indonesia. “BUMN itu selalu, overprice, kemahalan, sebetulnya kalau kita lakukan control cross garuda pasti bisa nguntungin, memang pada tahun 2017 ticket price terlalu rendah, tapi hari ini ticket naik 100 persen, tapi operasional cost (biaya-red) harus di rem,”sambungnya lagi.

Ia pun mengungkapkan pada saat menjabat sebagai Presiden Komisaris Semen Gresik, dimana ia mampu melakukan peningkatan yang sangat signifikan terhadap perusahaan tersebut.

“Waktu saya preskom dari semen gresik group, saya minta supaya cross di kurangai 8 dolar AS per-ton, tapi katanya tidak bisa, tapi akhirnya kita kasih penjelaskan dan bisa. Ini kenapa bisa terjadi, karena suplier BUMN itu KKN, jadi ganti aja yang baru.. dan kita berhasil. Sehingga dalam wakytu dua tahun keuntungan kita naikkan, dari 800 miliar ke 3,2 triliun, empat kalinya, hanya karea kita tekan cost,” ungkapnya.

Selain Semen Gresik, Rizal juga menjelaskan, bagaimana ia bisa membuat salah satu bank ternama, yakni Bank Negara Indonesia (BNI) mendapat keuntungan berlipat. “Sama dengan BNI, kita tekan cost, tapi credit kita diatas rata-rata, saya lakukan asset revaluasi, sehingga kredit kita dua kali dari rata-rata nasional.. tahun itu keuntungan BNI 87 % termasuk paling tinggi dari seluruh bank nasional.

“BUMN kita ini banyak masalah karena tidak mampu menekan cost, menterinya gak lakukan apa -apa malah nambahin cost, cost politik dan lainnya, tapi essensinya kalau cost ditekan BUMN bisa competitif,” tutupnya.

Diketahui sebelumnya, bahwa laporan keuangan tahunan maskapai penerbangan Garuda Indonesia mendapat sorotan publik. Laporan keuangan tahunan 2018 Garuda mendadak untung, sebesar 809,85 ribu dolar AS, atau sebesar Rp. 11,33 miliar.

Kejanggalan ini juga mendapat penolakan dari dua komisaris Garuda, yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria. Chairal mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan surat keberatan atas laporan keuangan Garuda Indonesia. Pihaknya juga meminta agar surat itu dibacakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar hari ini.

“Tapi tadi tidak dibacakan suratnya, karena tadi pimpinan rapat merasa cukup dinyatakan dan dilampirkan saja di annual report,” ujarnya di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (24/4/2019) lalu. (Fel)

Komentar

News Feed