oleh

Laporan Allan Nairn Soal Prabowo, Gerindra: Kami Punya Bukti Transfer Rp 20 Miliar untuk Ciptakan Fitnah!

indonesiakita.co – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono menanggapi laporan terbaru Allan Nairn tentang rencana Prabowo jika menang dalam Pemilihan Presiden 2019. Dimana dalam laporan tersebut, Prabowo akan melumpuhkan kelompok Islam kanan seperti HTI dan PKS.

Selain itu juga akan mengembalikan dwi fungsi ABRI seperti zaman Orba.

Menanggapi hal ini, Arief mengaku pernah bertemu dan diwawancari oleh Allan Nairn. Namun ia mempertanyakan data-data yang dimiliki oleh Allan.  

“Jadi saya tanya si Allan itu. Kamu tuh datanya dari mana, dari badan intelijen outsourcing,”ujarnya, hari ini di Jakarta.

Arief juga mengaku mendapat bukti tranfer uang kepada Allan dengan nilai lebih dari Rp 20 miliar. Bukti transfer itu didapat dari diplomat  AS.

“Ini dia bukti transfer ke rekening Allan Nairn di DBS Bank Singapore untuk membuat kampanye hitam dan fitnah terhadap Prabowo dan TNI. Dari New York itu. Bulan Maret dia terima itu,” tegasnya n ketua umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu ini.

Untuk itu, Arief mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap Allan Nairn karena sudah membuat sebaran informasi hoax di Indonesia.

“Apalagi saat saya wawancara sama Allan Nairn, dia mengakui bahwa sangat tidak suka dengan Prabowo Dan TNI,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, dalam unggahan di blog pribadi, Allan menyebut bahwa Prabowo sudah merencanakan penangkapan massal pada musuh politik dan koalisinya.

Dia turut menyertakan empat lembar dokumen yang berisi notulensi rapat yang digelar Prabowo di rumahnya pada 21 Desember 2018.

Pada halaman 1 laporan itu tertulis sejumlah nama yang hadir dalam rapat itu, antara lain Prabowo, Letjen (Purn) J.S. Prabowo, Letjen (Purn) Yunus Yosfiah, Laksanama (Purn) Tedjo Edhy Purdijanto, Mayjen (Purn) Glenny Kairupan, Laksamana Madya (Purn) Moekhlas Sidik, Mayjen TNI (Purn) Judi Magio Yusuf, Mayjen TNI (Purn) Arifin Seman, Mayjen TNI (Purn) Musa Bangun, Fadli Zon, Arief Puyono, Habiburahman, dan lainnya.

Dia mengaku menulis itu berdasarkan dokumen intelijen yang ia terima dan sudah beredar di kalangan aparat di Indonesia. Tapi dia menolak memberi tahu sumber dokumen.

“Jadi memang sama sekali nggak ada rapat, kalau ada rapat saya pasti diundang,” pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed