oleh

Surya Paloh Mempermainkan Cita-cita Restorasi

-Opini-229 views

indonesiakita.co – Aku masuk Partai NasDem karena sejalan dengan ideaku tentang Mukadimah Partai NasDem menetapkan berulang-ulang kali kalimat tentang demokrasi dan restorasi yang menggelorakan semangat perjuangan untuk negeri yang kucintai.

Apa yang terbelah di otakku tentang jurus mukadimah yang banyak mengemukakan demokrasi dan reformasi untuk perjuangan politik untuk bangsaku dari prolog dan epilog 1964 sampai now, kemudian aku diajak oleh Surya Paloh untuk memikul tanggung jawab di Dewan Pertimbangan Partai NasDem,

1. Reformasi telah mengeluarkan kita dari kubangan kediktatoran. Namun pada saat yang sama refomasi juga tidak menawarkan arah yang jelas ke mana bangsa ini akan menuju.

2. Demokrasi berjalan tanpa bimbingan ideologi politik, tanpa program politik yang konsisten dan pada achirnya menjauhkan negara dari mandat konstitusionalnya:
– Kami menolak demokrasi yang hanya sekedar merumitkan tatacara berpemerintahan tanpa mewujudkan kesejahteraan umum;
– Kami menolak demokrasi yang hanya menghasilkan rutinitas sirkulasi kekuasaan tanpa kehadiran pemimpin yang berkualitas dan layak diteladani;
– Kami menolak demokrasi tanpa orientasi pada publik;
– Kami menolak negara yang meninggalkan perannya dalam pemenuhan hal warga negara;

3. Kami mencita-citakan demokrasi Indonesia yang matang, yang menjadi tempat persandingan keberagaman dengan kesatuan, dinamika dengan ketertiban:
– Kami mencita-citakan sebuah demokrasi berbasis warga negara yang kuat, yang terpanggil untuk merebut masa depan yang gemilang, dengan keringat dan tangan sendiri;
– Kami berdiri atas nama gagasan sosial demokrasi, yang mengedepankan kehadiran negara dalam pemenuhan hak warga negara;
– Kami berdiri untuk membangun politik warga negara berdasarkan cita-cita kesejahteraan, kesetaraan dan gotong royong.

4.Partai NasDem berdiri untuk merestorasi cita-cita Republik Indonesia. Kami mengusungkan mandat konstitusi untuk membangun sebuah negara kesejahteraan berdasarkan prinsip demokrasi ekonomi, negara hukum yang menjujung tinggi hak asasi manusia dan negara yang mengakui keberagaman sesuai prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Tapi, now, sangat mengecewakan dalam kehidupan politik suitan-suitan yang menonjolkan untuk kepentingan popularitas pribadi sehingga terlupakan apa yang tercantum di Mukadimah Partai NasDem tersebut. Ibu Pertiwi lari, sambil meratap.

Apakah AD/ ART partai hanya tertulis di kertas yang ditinggalkan di perpustakaan atau tidak lagi dijiwai sebagai semangat untuk anak bangsa salam pengabdian untuk negeri yang dicintainya? Apakah tersembunyi kepentingan pribadi oligarki di pucuk partai politik?

Aku berada di Dewan Pertimbangan Partai Nasdem sampai pengabdianku April 2017 di partai diputuskan oleh Surya Paloh, Ketua Umum DPP partai NasDem dan Siswono, Ketua Wantim yang tidak sah, karena tidak terdaftar menurut UU di Kementerian Hukum dan HAM.

Nah, sebagai pejuang yang berada di Dewan Pertimbangan Pusat Partai NasDem dalam hal:
– Memberikan pandangan dan pertimbangan serta pendapat kepada partai dalam program-program strategis dan bersifat memperkuat eksistensi partai;
– Memberikan masukan konstruktif kepada Majelis Tinggi Partai dan Dewan Pimpinan Pusat.

Sebagai mantan KAPPI Pusat, Angkatan ’66 dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, aku tidak boleh terseret dalam lingkaran pikiran-pikiran jahat dan kotor untuk pelanggaran AD/ ART partai yang dijunjung oleh setiap anggota.

Siswono, Ketua Dewan Pertimbangan yang aku tidak kenal karena baru ditunjuk oleh Surya Paloh, entah melalui mekanisme apa, semau gue, sehingga kepemimpinannya ditelan zaman kemajuan digital. Malu deh, sebagai ex bawahanku di Gerakan Pelajar Pancasila, lebih setengah abad yang lalu, di mana posisiku, Teddy Setiawan sebagai Ketua DPP Gerakan Pelajar Pancasila.

Tugas formatur tunggal hasil kongres pertama Surya Paloh setelah selesai menyusun personalia Pimpinan Pusat Partai NasDem, Majelis Tinggi, Dewan Pertimbangan, Dewan Pakar, Mahkamah Partai dan Dewan Pimpinan Pusat, tugas beliau sebagai formatur selesai dan mulai berlaku dan tunduk pada ketentuan AD/ ART.

Setelah Ketua Wantim Ibu Rachmawati Soekarnoputeri mengundurkan diri, Surya Paloh tidak mematuhi AD/ ART dalam memberi posisi/ jabatan pada pelarian politikus partai Golkar Siswono dan Massi menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem yang tidak tercantum dalam SK Menkumham tanggal 6 Maret 2013 terkait dengan komposisi kepengurusan Dewan Pertimbangan Partai Nasdem.

Nah, kebijakan gila, tanpa mematuhi AD/ ART langsung mengeluarkan surat pemberhentian pada beberapa anggota Dewan Pertimbangan yang telah terdaftar dan disahkan oleh SK Menkuham 6 Maret 2013, sedang penunjukan kedudukan Ketua / Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem Siswono dan Massi tidak terdaftar dalam susunan pengurus.

Dunia nyata semakin gila, apa ini Restorasi Surya Paloh yang selalu berteriak di tengah publik, tanpa mematuhi UU di Menkumham?
Apa yang terjadi, tentang Mukadimah AD/ ART Partai NasDem, seperti menikmati makan kacang goreng di planet rumah fantasi.

Apa bentuk menghilangkan malunya, Surya Paloh melanggar AD/ ART dengan tidak melakukan kongres sebagai kewajiban yang dituangkan dalam AD/ ART Partai selama 5 tahun, yang berakhir tanggal 6 Maret 2013?

Nah, akibat mempermainkan demokrasi dan restorasi untuk kepentingan sejenak, yang tidak berpedoman pada Mukadimah AD/ART, berakibat kader yang mencintai Partai NasDem, Kisman Latumakulita membawa ke pengadilan, karena kongres tidak dilaksanakan. Dikarenakan Ketua Mahkamah tidak terdaftar susunan personalia di SK Menkumham 6 Maret 2013, sehingga tidak dapat menyelesaikan permasalahan dan berlanjut di Pengadilan Negeri.

Bagaimana Partai NasDem di Pemilu April 2019, dunia maya bersuitan. Pembuktian semakin jelas dari hasil survey Litbang Kompas. Terima kasih. (Penuis: Teddy Setiawan Mantan KAPPI Pusat/
Angkatan 66)

Komentar

News Feed