oleh

Rizal Ramli Ajak Masyarakat Tak Mudah Dibohongi Soal Manipulasi Lembaga Survei

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli kembali mengingatkan kepada masyarakat agar memahami apa yang terjadi saat ini terkait sejumlah hasil survei elektabilitas capres-cawapres yang ada di Indonesia. Adapun saat ini, sejumlah survei banyak yang memberikan angka tinggi kepada Jokowi-Ma’ruf Amin ketimbang Prabowo-Sandi.

Mantan Menko Maritim ini menjelaskan, bahwa pada Pilkada DKI 2017 lalu, ia sempat memberi saran kepada presiden Joko Widodo bahwa terjadi pergeseran kekuatan politik pada elektabilitas Anies Baswedan. Padahal, saat itu sejumlah survei memenangkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

“Saya saat itu sering diminta tanggapan sama mas Widodo (sapaan Rizal saat ini kepada Jokowi). Saya katakan, Ahok kalah, mas (Jokowi) harus menjauh dari dia (Ahok), eeeh ngeyel, malah bilang ke saya bahwa hasil survei mengatakan Ahok menang, hasilnya apa? tumbang kan??,” ujar Rizal, tadi malam, di Kawasan Jakarta Pusat.

Dimana memang, saat itu sejumlah survei mengatakan, Ahok akan menang dengan selisih 3 persen dari dua pesaingnya, Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan.

“Dia (Jokowi) bilang enggak (Ahok menang), menurut Yunarto menang 3 persen. Menurut Saiful Mujani menang 3 persen. Mas (Jokowi) mohon maaf, saya ini orang yang keliling berbagai lingkungan dan banyak yang ingin Ahok kalah. Apa yang terjadi? (Ahok) kalah 16 persen,” sambung Rizal.

Terkait kondisi ini, Rizal mengingatkan kepada masyarakat Indonesia agar perlu mengetahui, bagaimana survei yang saat ini disajikan oleh sejumlah lembaga survei.

“Nah hari ini lembaga poling bilang gapnya 20 persen. Bahkan tadi Mas Jokowi 56 persen. Halah pada saat jaya jayanya mas Jokowi, hebat hebatnya Pilpres dia cuman 52 sampai 53 persen. kok hari ini ada klaim lembaga survei si Denny JA 56 persen yang bener aja,” ketusnya.

Saat ini menurutnya, lembaga survei justru membuat jarak elektabilitas antara Jokowi dan Prabowo berbeda 20 persen untuk menjustifikasi kecurangan bila Jokowi kalah. Dirinya punya bukti bahwa Prabowo hanya terpaut di bawah 10 persen dari Jokowi.

“Jokowi stagnan, Prabowo gap-nya kurang dari 10 persen. Yang belum menentukan sikap masih sekitar 20 persen, dan kalau ada kecurangan efeknya cuma 5 persen. Nah, karena itu kalau mau menang Prabowo-Sandi harus menang double digit, di atas 10 persen baru kecurangan itu tidak ada. Kalau (Prabowo-Sandi) menang 2 sampai 3 persen itu (rawan dicurangi),” sambungnya.

Selain itu, Rizal juga menyadari pasangan Prabowo-Sandi menggunakan ’paket hemat’. Meski begitu, Dirinya mencontohkan Pemilu Malaysia dimana Anwar Ibrahim bisa menumbangkan Najib Razak. Padahal, Najib Razak menguasai media dan uangnya berlimpah. Untuk itu, dia berpesan supaya pendukung paslon nomor urut 02 militan. “Militan itu artinya bekerja beyond money itu orang pergerakan harus begitu kerjanya. Jadi kalau mau double digit harus bekerja beyond money,”pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed