oleh

Jika Judi ‘Kartu Sakti’ Jokowi Miliki Angka Kalah, Bangsa Indonesia Akan Terus Lemah

indonesiakita.co – Nyaris lima tahun, kepemimpinan presiden Joko Widodo tentunya mendapat banyak evaluasi dari sejumlah pihak di Indonesia. Baik politisi, ekonom maupun berbagai lapisan masyarakat yang langsung merasakan kebijakan yang dikeluarkan pada masa jabatannya memimpin negeri subur dan makmur ini.

Adapun saat ini yang menjadi sorotan publik adalah sejumlah kartu yang dibilang ‘sakti’ oleh Jokowi.

Baik sejak awal ada Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS) maupun Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Kartu ini diyakini dapat membantu masyarakat Indonesia dalam menyelesaikan dua masalah, baik kesehatan maupun pendidikan, maupun kebutuhan masyarkat miskin.

Besaran nilai KIP yakni SD hingga SMA sederajat mencapai 450 ribu hingga 1 Juta, namun ada perubahan pada tahun ini yakni 750 ribu hingga 1,2 juta.

Selain itu ada Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang menggunakan anggaran sebesar Rp 6,2 triliun dan setiap keluarga akan mendapatkan Rp 200 ribu per bulan. Kartu ini akan diisi setiap 2 bulan. Kemudian ada ada KIS yang diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami sakit.

Kartu-kartu ini tentunya menjadi andalan bagi masyarkat, karena memang dinilai sebagai bantuan kepada masyarkat yang diharapkan langsung dirasakan. Namun, ini adalah merupakan sebuah cara yang mengajarkan mental bangsa kita menjadi ‘bangsa pengharap’, artinya berharap bantuan.

Padahal sejatinya, seorang presiden dapat memberikan stimulus, rangsangan terhadap sebuah perkembangan jaman, baik itu di semua sektor dalam sebuah negara. Lalu pertanyaannya adalah, mengapa Jokowi tidak mengajarkan pelajar Indonesia untuk bisa bersaing dengan bangsa asing, kemudian bagaimana agar masyarakat Indonesia bisa menjalani pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit, lalu masyarakat dapat melakukan kegiatan yang merujuk pada keterampilan guna menumbuhkan gairah usaha kecil menengah?.

Ada memang, saya baca di media, Jokowi menyerukan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), namun pada implementasinya saat ini yang kita lihat adalah, adanya kebijakan paket ke-16 yang digelontorkan Kemenko Ekonomi, dimana sejumlah bidang usaha bisa dikuasai asing 100 persen sahamnya.

Begitu pula di sektor kesehatan, kondisi BPJS kita yang saat ini mengalami desifit, lalu pertumbuhan ekonomi kita yang nyatanya sampai saat ini masih stagnan di angka 5%.

Kemudian dengan anggaran sebesar Rp 440 triliun, kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Bahkan berdasarkan data UNESCO, indeks pendidikan kita hanya menempati posisi ke-62 dari 72 negara.

Jokowi terbukti gagal menjalankan rumusan untuk membangun gairan pendidikan, ekonomi dan kesehatan di Indonesia. Meskipun ada upaya, tentunya cara yang dilakukan adalah dengan menggandeng pihak-pihak lain, makanya saya katakan kebijakan paket ekonomi ke-16 tersebut sangat mengganggu sistem di Indonesia.

Peradaban Masyarakat Indonesia Mundur

Masyarakat kita saat ini sedang dalam kondisi kemunduran dalam peradaban, karena pasalnya, masyarakat terbukti dihadapkan pada tiga kartu yang dikeluarkan Jokowi sejak awal hingga saat ini tidak memberikan dampak positif terhadap berbagai perkembangan,

Kini Jokowi kembali mengeluarkan tiga kartu, yakni KIP kuliah, Kartu Pra Kerja dan Kartu Sembako Murah. Kemudian apakah masyarakat akan kembali berharap bantuan?

Jelas, Jokowi hanya memiliki terobosan di sektor kemampuan lokal, tidak memiliki inovatif dalam pengembangan yang mengacu pada dunia persaingan pada generasi muda dalam sektor pendidikan.

Jokowi juga gagal menghadapi permasalahan dunia kesehatan, terutama layanan kesehatan dimana saya sebutkan kembali BPJS Kesehatan mengalami defisit Rp3,3 triliun pada tahun pertamanya, di 2014 lalu, defisitnya kian bengkak hingga menyentuh Rp5,7 triliun pada 2015.

Kemudian, menjadi Rp9,7 triliun pada 2016 dan Rp9,75 triliun pada 2017. Untuk tahun 2018, defisit diproyeksikan mencapai Rp16,5 triliun, yang belakangan dikoreksi hanya tersisa Rp10,98 triliun berdasar hitung-hitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Ada pula Kartu Pra Kerja, yang memberikan insentif honor. Ini tak terbantahkan lagi bahwa semakin menciptakan generasi muda kita menjadi pemalas, karena mendapatkan uang dari kartu tersebut.

Selain itu ada Kartu Sembako Murah, yang nantinya akan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berbelanja di warung-warung untuk mencukupi kebutuhannya. Apakah tiga kartu ini efektif dalam mengangkat derajat dan martabat Indonesia ke permukaan internasional?, tentunya jauh dari ekspektasi masyarakat.

Bantuan yang diberikan pemerintah di era Jokowi memberikan stimulus dan berdampak negartif terhadap peradaban masyarakat Indonesia.

Mengapa? karena masyarakat tidak lagi mengenal persaingan, memacu adrenaline untuk meningkatkan gairah pendidikan, terangsang dengan perkembangan teknologi bahkan sampai bagaimana cara menganggulangi penyakit, karena lebih sering diberikan pesan penangkal sementara, yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Jokowi tak mampu menjual kemampuan anak bangsa ke dunia Internasional, mengingat kegiatan Jokowi pula jarang di dunia Internasional. Tentunya ini akan menjadi tolak ukur bagi para menteri kabinet Jokowi. Kan bisa dilihat tingkat pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan?. Begitu pula dengan upaya masyarakat yang ingin membangun usaha kecil tentunya akan teranggu dengan konsep kebijakan ekonomi ke-16 milik pemerintah.

Karena akhirnya menteri cabinet Jokowi juga bukannya mengajak anak bangsa bersaing dengan dunia internasional, justru membawa investor asing untuk menguasai sistem di Indonesia.

Bangsa Indonesia menjadi tetap bangsa pekerja, pelajar dan mahasiswa Indonesia sulit bersaing di dunia internasional, perkembangan industri kecil yang merangsang pertumbuhan ekonomi juga dihadang oleh kekuatan finansial para investor yang masuk ke dalam sistem.

Jokowi tukang gombal, tak inovatif, tak miliki terobosan, hanya berikan halusinasi kepada rakyat, sehingga membuat peradaban masyarakat Indonesia terus mengalami kemunduran. Jika dianalogikan kartu sebagai alat judi, angka di dalam kartu adalah angka yang kalah, dan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah. (Muda Saleh/Analis Sosial)

Komentar

News Feed