oleh

Ma’ruf Sebut Jokowi Turunkan Pengangguran Terendah Sepanjang 20 Tahun, Rizal Ramli: Overclaim!

indonesiakita.co – Cawapres nomor urut 01, Ma’ruf Amin mengklaim bahwa tingkat pengangguran di Indonesia telah turun drastis. ia menyatakan, bahwa saat ini berada paling terendah selama 20 tahun.

“Sekarang ini sudah berada sangat rendah, antara 5,30-5,13 terendah, selama 20 tahun. Dan kita juga ingin mendorong tenaga kerja kita mampu menguasai teknologi terutama digital.,” jelasnya, dalam debat cawapres, malam ini di Hotel Sultan Jakarta.

Ia juga menjelaskan, infrastruktur digital menumbuhan berbagai macam jenis usaha di Indonesia. “Sehingga tumbuh usaha-usaha seperti start-up, unicorn, dengan demikian maka tenaga kita harus disiapkan, dalam rangka menyiapkan anak-anak kita menghadapi ‘Ten Years Challege’,” tutupnya.

Apa yang dikatakan Ma’ruf Amin tentunya mengingatkan kembali terhadap apa yang pernah ditegaskan oleh ekonom senior Indonesia, Rizal Ramli bahwa tingkat penurunan kemiskinan di era Jokowi paling lambat, dan penurunan angka pengangguran di era Jokowi tidak maksimal, karena menurutnya banyak anak muda justru memilih bekerja sebagai tukang ojek.

“Anak muda di desa sudah malas bekerja sebagai petani, karena menurut mereka percuma, karena hasil dari kerja mereka tidak ada untungnya, karena apa?, hasil panen kalah dengan impor yang ada dan mereka lebih memilih menjadi tukang ojek. Jadi memang, Indonesia memang perlu pemimpin yang optimis, baik dalam kehidupan pribadi maupun negara. Presiden memang menyampaikan optimis, tapi itu di tabun 2014, apalagi presiden Widodo jauh dari konsep Trisakti,” tegasnya, Senin, 25 Februari 2019 lalu.

Selain itu, terkait adanya kebijakan Paket ekonomi ke-16 yang dikeluarkan oleh Kementerian Ekonomi beberapa waktu lalu, menurut Rizal justru akan membuat persaingan anak bangsa menjadi sulit dengan pemberian keleluasaan pihak asing untuk memegang 100 persen salam sebuah usaha di Indonesia.” Darimana mau membangun SDM kita, darimana mau menurunkan angka pengangguran?, ini malah kasih kesempatan bagi pihak asing untuk kuasai 100 persen sejumlah bidang usaha di Indonesia, saya tidak habis pikir ini,” sambungnya.

Rizal Ramli Berikan Solusi Buka Lapangan Pekerjaan

Rizal juga mengkritik bunga surat utang pemerintah yang 8,5%, paling tinggi di kawasan Asia-Pasifik. “Jadi, pemerintah ini prioritasnya bikin senang petani di Thailand, Vietnam, petani garam di Australia yang kasih utang ke Indonesia bunganya 8,5%, paling tinggi di kawasan Asia Pasifk, kalau negara lain yang bukin surat utang bunganya hanya 5-6%,” terang ekonom senior itu.

Sehingga, kata Rizal, uang negara bisa habis untuk membayar utang. Belum lagi dengan bunganya. Ia mengandaikan uang sebesar itu mestinya digunakan untuk membuat lahan baru yang bisa memperkerjakan para petani Indonesia. “Coba bayangkan itu prioritasnya, utang setiap hari bayar bunganya berapa, padahal kalo kita pake itu bikin sawah ladang tebu, ladang jagung jutaan rakyat kita bekerja,” katanya.

“Padahal dengan Rp 1 triliun kita bisa bikin itu tadi sawah baru, lebih malah nggak sampai segitu. Bayangkan lapangan pekerjaan yang bisa dibuka dengan 1 juta sawah baru, setengah juta hektar tebu, 1 juta kebun jagung. Daripada uangnya untuk bayar utang,” lanjutnya.

Ia menegaskan Jokowi tidak bisa menyelesaikan masalah di sektor ekonomi. Jokowi menurutnya, selalu berpidato tentang kedaulatan pangan, tapi tidak ada hasil.

“Mas Jokowi who are you working for? Kerja buat siapa ? Kerja buat petani di luar negeri. Dan mohon maaf jangan ulangi lagi slogan atau pidato soal kedaulatan pangan. Karena dalam empat tahun bapak presiden tidak mampu, justru malah sebaliknya yang terjadi. Lebih bagus nggak bikin apa-apa 3 bulan lagi,” jelasnya.

Mantan Menko Ekuin era Gus Dur itu menegaskan, tebaran optimis yang diusung Jokowi memudar.” Ekonomi stagnan di 5 persen, pengurangan kemiskinan terendah sejak reformasi, presiden Widodo hanya bisa menurunkan 450 ribu orang miskin pertahun, bandingkan dengan era Gus Dur yang mampu menurunkan kemiskinan 5,05 juta pertahun,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan prestasi presiden Widodo paling rendah. “ Kebiasaan overclaim, justru paling rendah menurunkan kemiskinan karena garis ekonominya meninggalkan Trisakti, terutama karena impor ugal-ugalan, terutama menghapus subsidi listrik 450 dan 900 Watt. Boro-boro kedaulatan pangan tercapai, yang terjadi impor ugal-ugalan,” tukasnya. (Fel)

Komentar

News Feed