oleh

Nasib PSI, Dinilai Rusak Elektabilitas Jokowi dan Diledek Parpol

indonesiakita.co – Pidato Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia atau PSI Grace Natalie dalam acara Festival 11 di Medan, Senin 11 Maret 2019 menyerang sikap partai yang berlabel nasionalis di Indonesia terus menjadi sorotan banyak pihak. Bahkan, apa yang disebutnya dinilai dapat merusak elektabilitas presiden Joko Widodo.

“Apakah akan mengganggu Jokowi? Ya bisa saja, tapi yang banyak komentar partai koalisi Jokowi sendiri kan,” ujar Pengamat Politik dari Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi), Hendri B Satrio, kemarin kepada wartawan.

Henri menilai, yang dilakukan PSI dengan menyinggung banyak partai yang mengaku nasionalis tapi justru mendukung peraturan daerah (Perda) syariah yang diskriminatif menggangu elektabilitas petahana.

Selain itu menurutnya, isu yang dibawa PSI soal kesetaraan dimana isu tersebut dari hasil survei bukan menjadi permasalahan pokok yang diperhatikan masyarakat Indonesia.

“Tapi kan saat ini permasalahan pokoknya adalah ekonomi dan lapangan pekerjaan. Harusnya, PSI berani masuk ke ranah isu premier ekonomi yakni bagaimana cara mengentaskan kemiskinan dan partai ini membuka lapangan kerja lebih banyak.
Memang,” sambungnya.

Adapun PSI jelasnya, yang mengusung kadernya sebagai calon anggota legislatif harus memperbaiki apa yang menjadi masalah dalam ekonomi.

“Kenapa sih lebih fokus permasalahan di Medan itu dan bangga sekali? Kenapa tidak bahas Tolikara misalnya. Menurut saya, lebih tepat dilaksanakan karena akhirnya orang-orang akan terfokus apa yang disampaikan PSI ernyata bolongnya banyak,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengkritik pidato Grace. Ia menjelaskan, bahwa setiap partai memiliki pendekatan dan strategi berbeda dalam banyak hal.

“Jadi memang..siklusnya internalisasi, sosialisasi dan eksternalisasi ideologi. Butuh waktu panjang, itu sebabnya kami (PDI-P) terus mengingatkan agar kader memiliki kesabaran revolusioner,” ujarnya, kepada awak media di Gedung DPR, Selasa (13/3/2019) lalu.

Bahkan Hendrawan juga mempertanyakan sumber pendanaan PSI sebagai partai baru. Sebab, ia menilai partai partai besar saat ini kesulitan menggalang dana untuk beriklan di televisi, baliho berbayar serta alat peraga kampanye lainnya.

“Jadi ada yang menarik tentang PSI. Siapa saja konglomerat yang ada di belakangnya, sumber dana dari bisnis apa, dan seterusnya, bisa jadi bahan kajian menarik.
“Terus terang kami kagum dengan semangat Bro dan Sis di PSI. Daya juang dan strategi juangnya harus kita hargai,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed