oleh

Rizal Ramli Ungkap Bangun Jembatan Layang Pasupati Tanpa Utang

-Ekonomi-475 views

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli kembali mengkritik kebijakan pemerintah terutama dalam mengatasi kondisi ekonomi. Menurutnya, presiden Joko Widodo berjalan berlawanan arah dengan kepentingan rakyat.

“Saya contohkan.. pak Widodo.. maaf sebelumnya saya panggil mas.. karena saya hargai betul.. tapi sekarang pak Widodo. Jadi harusnya jalan ke depan, sampai selesai.. soal tak mencapai target itu biasa dan dicari apa penyebabnya, diperbaiki, kan simpel dong. Ini enggak, dia jalan malah kebelakang, meninggalkan kepentingan rakyat,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Bandung, kemarin.

Rizal menjelaskan, bahwa kondisi ekonomi di era Jokowi tidak sesuai target. “Target gak tercapai, kan harusnya bikin evaluasi ya buat kampanye ke depan, di rubah. Ini lagi-lagi menjalankan apa yang sudah dibuat dengan konsep yang sama, jelas-jelas gagal. Akibatnya apa? pertumbuhan ekonomi mentok.. utang membesar..dan apa yang dikerjakan saat ini banyak memiliki masalah.

Adapun menurutnya, banyak hal bisa dilakukan dalam membangun Indonesia lebih baik. Yakni salah satunya dengan memperbaiki sektor pangan. “Saya sedih jujur aja, petani garam di Madura teriak, anaknya putus kuliah, putus sekolah karena garamnya gak laku, karena apa? garam impor. Belum lagi disektor pangan, beras, gula, inikan keterlaluan namanya, berpihak darimana?,” sambung Rizal.

Ia menilai Pemerintahan Jokowi tak memiliki cara jitu dalam mengangkat Indonesia ke arah yang lebih baik. Hal ini terjadi karena menteri di sekeliling Jokowi tak mendukung konsep kerja pemerintah untuk rakyat.

“Saya waktu itu di kabinet tegas katakan bahwa pencabutan subsidi listrik bertentangan dengan kepentingan rakyat. Karena mereka pada bilang 450 Watt itu tak semuanya masukkategori miskin. penggunaan 450 Watt itu udah pasti miskin!, paling dua sampai tiga lampu, dan kulkas kecil.. kalau mau nyetrika ada yang dicabut biar gak turun. Trus saya bilang.. kalau gak terdata peenggunaan 45o itu bukan orang miskin, berarti datanya yang ngawur!,” tegas Rizal.

Mantan anggota tim Panel penasihat PBB ini juga mengingatkan bagaimana saat ia menyelesaikan permasalahan utang, bahkan bisa dapat keuntungan. “Saat itu, pemerintah bisa tukar utang bunga mahal dengan murah. Seperti kerjasama ketika itu dengan Kuwait, dimana kita bayar utang ke mereka, dan beberapa bulan kemudian kita mendapat pinjaman lagi dengan harga yang murah istilahnya ‘Debt Swap’. Jadi mereka senang.

“Mereka juga tanya sama saya pak Rizal.. kami ucapkan terimakasih, apa yang bisa kami lakukan untuk Indonesia.. saya bilang aja, saya lama di Bandung, tolong bikinin jembatan, sekarang jembatan itu kita kenal dengan nama Jembatan layang Pasopati. Ini namanya membangun tanpa utang!,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed