oleh

Enggar Akan Potong Gaji Karyawan Jika Konsumsi Pangan Impor, Beras dan Gula Piye?

indonesiakita.co – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kembali melakukan kebijakan kontroversi. Politisi partai Nasdem ini bahkan berencana memotong gaji pegawainya.

Ia mengatakan, hal tersebut dilakukan jika kantornya menyuguhkan makanan dan buah impor.

“Aku cinta produk Indonesia, saya marah betul kalau di kantor internal saya menyuguhkan makanan dan buah-buah impor, saya potong gaji,” kata Enggar dalam kuliah umum di Universitas Tarumanegara, Jakarta, hari ini.

Enggar juga mengungkapkan tak akan memandang bulu untuk memotong gaji karyawannya. Mulai dari sekretaris jenderal (sekjen) hingga kepala biro tetap akan dipotong gaji bila menghidangkan makanan impor.

“Pokoknya saya mau nggak ada barang impor. Kalau ada dari semua jajaran saya, mulai dari sekjen, kepala biro saya potong gaji,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, apa yang diucapkan Enggar tampaknya masyarakat kembali diingatkan dengan impor pangan yang dilakukan pada kementeriannya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pemerintah Indonesia telah melakukan impor beras sebanyak 2,25 juta ton dengan nilai US$ 1,03 miliar disepanjang tahun 2018.

Berdasarkan data BPS yang dikutip, Jakarta, Rabu (16/1/2019). Impor beras dilakukan secara bertahap dengan mendatangkan pada setiap bulannya selama 12 bulan.

Adapun selain beras, Indonesia kembali dikejutkan dengan adanya impor gula, bahkan disinyalir, impor gula tersebut merupakan impor terbesar di dunia.

Sebelumnya, ekonom senior Faisal Basri mengatakan, bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi importir gula terbesar di dunia.

“Saya kaget indonesia sudah jadi importir terbesar di dunia, sebelumnya kan nggak terbesar. Kita sudah lampui China dan AS,” kata Faisal dalam acara INDEF di Jakarta, Senin (14/1/2019) lalu.

Faisal mengatakan, lonjakan impor gula terjadi sejak 2009. “Dan meroket 2016, Enggar (Enggartiasto Lukita) jadi mendag, sejak itulah,” tegasnya.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) disebutkan, peningkatan impor gula Indonesia terjadi secara konsisten.

Selain itu, Faisal juga mengungkapkan kesedihannya soal harga gula di Indonesia yang tiga kali lipat lebih mahal dari gula mentah dunia.

“Gula rafinasi menurut ketentuan tidak boleh dipasarkan untuk gula konsumsi, hanya boleh diizinkan impor raw sudah untuk dipakai industri makanan dan minuman (mamin). Industri mamin pemain dunia mereka tahu harga gula, mereka nggak mau dikadali, kontraknya jangka panjang,” katanya.

“Impor 4,6 juta ton (2018) kebutuhan hanya 3 juta ton, selebihnya? Mengalir ke pasar untuk gula konsumsi. Pemerintah menggunakan untuk stabilitas harga di pasar, padahal sebelumnya pemerintah mengatakan, gula rafinasi tidak boleh dipasarkan karena tidak baik bagi kesehatan, sekarang pemerintah pakai gula rafinasi untuk stabilisasi harga,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed