oleh

Rizal Ramli Soroti Buruknya Pendidikan di Indonesia

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli kembali mengungkapkan kekecewaannya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa saat ini kondisi peradaban masyarakat telah menurun karena faktor mutu pendidikan di Indonesia tidak maksimal.

Hal ini ia ungkapkan karena beberapa kali ia menjadi pembicara di berbagai sekolah dan kampus di Indonesia, ia menyebut semua unsur pendidikan mengalami hal yang sama.

“Kita bayangkan saja, anggaran pendidikan Indonesia sudah sangat besar, yakni sekitar Rp 440 triliun pada 2018. Namun, kualitas pendidikan Indonesia masih rendah. Berdasarkan data UNESCO, kata Rizal, indeks pendidikan di Indonesia hanya menempati urutan ke-62 dari 72 negara. Indeks tersebut jauh dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam yang menempati urutan lima terbaik atau Singapura yang masuk dua besar dunia,” ujarnya, saat ditemui di kediamannya, di Kawasan Bangka, Jakarta Selatan, pagi tadi.

Kondisi ini menurutnya, karena ada inefisiensi dalam dunia pendidikan di Indonesia. “Jadi Bukan persoalan uang. Anggaran pendidikan kita sangat besar sekali Rp 440 triliun. Tetapi banyak inefisiensi,” tegas Rizal.

Sebagaimana diketahui, Rizal Ramli merupakan pencetus yang menerapkan sistem pendidikan wajib belajar 6 tahun. Sistem ini untuk meningkatkan taraf pendidikan anak-anak di seluruh Indonesia.

Ia menambahkan, bahwa pelajar di Indonesia tidak memiliki semangat berkompetisi, dan ia juga mengusulkan sebagian anggaran pendidikan dialokasikan untuk memacu semangat pelajar berkompetisi. Salah satunya dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20 triliun untuk memberikan hadiah berupa beasiswa penuh selama satu tahun kepada pelajar berprestasi dalam bidang apapun.

“Ini sudah lama saya katakan, dan saya menawarkan supaya nanti diberikan hadiah dalam bentuk beasiswa satu tahun. Lomba matematika fisika, renang, lari, lomba apa saja. Saya percaya betul, anak-anak Indonesia pintar dan hebat. Begitu dikasih hadiah satu tahun beasiswa, anak Indonesia terbiasa berkompetisi,” imbuhnya.

Adapun budaya berkompetisi, menurut Rizal akan membentuk mental generasi muda bangsa. Setidaknya, generasi muda tidak mudah terprovokasi. Selain itu, budaya berkompetisi itu juga akan mengakselerasi kualitas pendidikan di Indonesia.

“Kalau anak-anak kita biasa kompetisi, saya yakin dalam waktu cepat, kualitas pendidikan kita yang rendah nomor 62 di dunia berdasarkan UNESCO, bisa kita tingkatkan dalam waktu cepat. Vietnam saja bisa. Vietnam ketinggalan dulu, hari ini nomor 5,” ketusnya.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini juga menyoroti tingginya biaya pendidikan di Indonesia. Ia menyebut biaya pendidikan akan terus melambung setiap tahunnya, dan negara tidak bisa terus menerus membiayai pendidikan.

Untuk itu, Rizal mengusulkan membentuk UU tanah hibah untuk perguruan tinggi atau land-grant university seperti yang diterapkan di sejumlah negara seperti di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa.

Selain itu, aturan lain yang diperlukan, yakni pendapatan perguruan tinggi yang bebas pajak. Dengan kedua aturan ini, keuangan perguruan tinggi akan semakin baik. Tak hanya bisa membiayai sendiri, dengan keuangan yang baik, kampus juga membiayai penelitian sendiri dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi.

Rizal juga mengkritik cara Jokowi dengan mengeluarkan tiga kartu ‘sakti’ yakni di antaranya Kartu Sembako Murah, Kartu Indonesia Pintar – Kuliah, dan Kartu Pra Kerja.

“Usul saya daripada cara recehan seperti itu, lebih bagus kita bikin UU Land-Grant, pemberian tanah yang besar untuk universitas negeri maupun swasta dan UU pembebasan pajak. Sehingga universitas kita makin lama makin kaya. Bisa membiayai research sendiri, dan kasih beasiswa ke mahasiswa,” tegasnya lagi.

Ia mengingatkan kepada pemerintah agar lebih mengedepankan mental para pelajar di Indonesia, karena menurutnya, dosen dan pengajar di Indonesia takut menyuarakan kebenaran ilmiah karena status mereka sebagai birokrat dan pegawai negeri sipil.

“Dosen-dosen harus lebih berani bersikap sebagai seorang intelek, bukan birokrat dan PNS yang mau ngomong apa saja takut,”tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed