oleh

Jurus Jitu Rizal Ramli Agar Indonesia Capai Pertumbuhan Ekonomi di 2020

indonesiakita.co – Rilis soal pertumbuhan ekonomi yang dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa pada kuartal IV-2019, pertumbuhan ekonomi tercatat 4,97% year-on-year (YoY) tentunya masih menyita perhatian publik. Wajar adanya, karena masyarakat juga banyak yang berharap atas perubahan di periode ke-2 pemerintahan Jokowi.

Bahkan, Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, bahwa pertumbuhan QoQ (Quarter over Quarter – menjelaskan perbandingan ukuran dua waktu yang sama dalam periode berbeda dalam basis satu kuartal-red) sejak triwulan ke-4 ke triwulan ke-3 tahun 2019 pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar 1,74 persen.

“Mempertahankan lima persen dalam situasi sekarang tidak gampang. Saya pikir 5,02 persen yang menunjukkan pelemahan ini, sudah cukup baik,” ujarnya, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (5/2) lalu.

Diketahui, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, pemerintah dengan jelas memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Kini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 sampai 6,2 persen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. RPJMN ini diterbitkan dalam bentuk Perpres pada 20 Januari.

Sementara itu, tak kurang-kurang tampaknya, ekonom senior Rizal Ramli mengingatkan bahwa kondiri ekonomi RI saat ini berada di posisi yang memprihatinkan, mengingat target kenaikan pada pertumbuhan ekonomi yang digembar-gemborkan tidak kunjung datang.

Ia mengaku, telah memprediksi kekhawatirannya terhadap makro ekonomi di Indonesia. “Saya sudah prediksikan kondisi ini pada akhir 2017, saya menyatakan itu hingga 2019 ekonomi kita hanya mampu berada sekitar 5%. Dan ini tidak aneh, karena kami kebijakan ekonomi makro sangat konservatif, dan yang dilakukan pada umumnya oleh Bank Dunia serta program utamanya adalah pengetatan atau penghematan.

“Program yang dilakukan mereka (bank dunia) itu gagal di Amerika Latin, bahkan gagal sampai tiga kali. Bagaimana tidak, pajak dikejar dan anggaran dipotong hanya untuk membayar kreditor, dan ini mengakibatkan ekonomi kita stagnan, kemudian inilah yang dipuji-puji. KIta buruh terobosan yang jitu dan Out of the Box,” jelas Rizal, dikutip dari Independent Observer.

Rizal Ramli Ungkapkan Jurus Menaikkan Petumbuhan Ekonomi

Mantan Menko Ekuin di era Gusdur ini menjelaskan, bahwa saat itu tim ekonomipemerintahan Gusdur berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi dari -3% menjadi 6 %.

“Bagaimana kami melakukannya?, satu salah satu cara kami melakukan ini adalah
melalui real estat. Sektor real estat semua macet di restrukturisasi Bank Indonesia, kemudian meningkatkan ekspor. Dalam sebulan, Indonesia naik satu peringkat tanpa penghematan. Ternyata di
21 bulan pemerintahan Gus Dur, kami berhasil meningkatkan ekonomi dari -3% menjadi 4,5% atau lebih tinggi 7,5%. Logikanya, jika ekonomi tumbuh, hutang bertambah.

Kami tidak melakukannya dengan diluar kebiasaan tim ekonomi pada umumnya melakukan strategi pertumbuhan ekonomi (Out of the Box). Bahkan, kita pernah membayar utang kepada kuwait dengan bunga utang yang sangat rendah,” ungkap Rizal.

Menurutnya, pemerintah kerap menambahkan utang, Rizal menyebutkan, Indeks Gini pada pemerintahan Gusdur adalah yang paling rendah.”Kami berhasil mempertahankan produksi makanan yang stabil dan tanpa impor. Kami bahkan berhasil melakukan ekspor dengan angka yang signifikan,” jelas Rizal.

Salah satu yang membangun pertumbuhan ekonomi juga menurutnya, adalah da beli masyarakat. Ia mengatakan, saat itu daya beli masyarakat tidak menurun. “Kami meningkatkan gaji pegawai negeri sebesar 125% dalam 21 bulan, kita melakukan ini dua kali, dan ini dilakukan karena memang, kita harus meninggalkan pengetatan kebijakan makro yang konservatif

Mantan Menko Martitim di era Jokowi ini membeberkan, bahwa ia pernah mengatakan kepada kepala negara bagaimana stategi menaikkan petumbuhan ekonomi tanpa dilakukan pengetatan.

“Saya mengatakannya kepada pak Jokowi. Pertama, anggaran digunakan untuk pulau terluar saja, sesuai yang diinginkannya (Jokowi). Kita gunakan BOT. Apa itu “BOT”? Itu adalah “Bangun Operate Transfer ”, keamanan aset dan revaluasi aset, tetapi hanya saya dan Pak Jokowi setuju. Saat itu yang saya inginkan adalah semua BUMN mengevaluasi kembali aset mereka.

Kami akan dapat meningkatkan aset BUMN menjadi Rp 2.500 triliun, memperoleh Rp 100 triliunbdalam pajak. Ini lebih besar dari pajak amnesti,” ungkap Rizal.

Ia juga mengungkapkan, bahwa PT PLN (persero) sempat berada di amang kebangkrutan. Dimana modalnya minus Rp 9 triliun, dan hanya memiliki aset Rp50 triliun. Saat itu sebut Rizal, jajaran direksi meminta suntikan anggaran negara.

“Saya berkata, tidak mungkin, harap evaluasi kembali aset Anda, dan sebagai gantinya. Nah, dari kebijakan tersebut ternyata aset milik PLN naik dari Rp 50 triliun hingga Rp 200 triliun. Dan ini saya lakukan pada PLN 16 tahun yang lalu, kalau tidak, PLN pasti sudah bangkrut!.

Bagaimana kita mendapatkan milik kita kredit tumbuh di atas 15% -17%. Hari-hari ini, kredit hanya tumbuh 10%. Jika pertumbuhan kredit 17%, maka ekonomi dapat tumbuh 6,5%,” tukasnya.

Rizal juga mengkritik impor komoditas pangan yang dilakukan pemerintah, dimana menurutnya banyak merugikan masyarakat. “Semua impor asing ke Indonesia dua kali lipat lebih mahal. Harga gula di Indonesia adalah dua kali lebih mahal dari yang ada di Australia, Bangkok, dan Malaysia. Harga daging juga dua kali lipat mahal. Ini karena mereka dikendalikan oleh kuota kartel.

Saya menyarankan di kabinet agar kita mengubah sistem, dengan menurunkan harga makanan hingga 75 %. Inikan bisa bikin para ibu rumah tangga kelas menengah bahagia.

Bayangkan saja, kalau sebelumnya, ibu rumah tangga kelas menengah berbelanja Rp200.000,00 setiap hari, sekarang hanya membayar Rp 150.000,00, karena harga daging 75% lebih murah, selain itu, tahu, tempe lebih murah. Jadi kami secara tidak langsung memberi Rp 50.000,00 sehari. Kalikan saja untuk 30 hari, ini keuntungan buat mereka, jadi total masing-masing mendapatkan kurang lebih Rp 1,5 juta, dan kita berhasil memberikan Rp60 juta untuk keluarga kelas menengah ini,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed