oleh

Rizal Ramli Isyaratkan Bahaya Impor Baja Tahun Lalu, Mengapa Jokowi Baru Sadar?

-Ekonomi-581 views

indonesiakita.co – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan importir baja terbesar yang masuk nomor 3 dalam daftar barang impor terbanyak. Hal ini ia sampaikan kemarin, di Jakarta.

“Kita tahu industri baja dan besi merupakan industri strategis nasional yang kita pakai mendukung pembangunan infrastruktur,” kata Jokowi di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Ia juga amengaku kaget daengan data impor baja yang masuk ke Indonesia. “Dan data yang saya miliki, impor baja sudah masuk ke peringkat 3 besar impor negara kita. Ini tentu saja menjadi salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan kita, defisit transaksi berjalan kita. Apalagi baja impor tersebut kita sudah bisa produksi di dalam negeri,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan pemerintah berkomitmen hadir dalam rangka membina dan membantu industri baja nasional. Baik itu industri baja yang dimiliki oleh pemerintah (BUMN) atau industri baja lainnya yang dimiliki oleh swasta.

“Nah kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, impor dari bahan baku untuk kebutuhan hilirisasi industri baja ini semakin lama semakin meningkat. Tentu ini merupakan satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tentu, yang harus kita selesaikan bagaimana kita meningkatkan unitilisasi,” kata Agus, usai ratas di Istana, Jakarta, Rabu (12/2).

Ia menjelaskan, bahwa saat ini pemanfaatan produksi dari kapasitas terpasang (utilisasi) rata-rata industri baja masih sangat rendah bahkan di bawah 50% dari kapasitas. Hal ini karena pasar baja di dalam negeri banyak diisi oleh produk-produk impor, penyebabnya antara lain daya saing produk lokal tertinggal dari produk impor terutama harga.

“Karena memang saya harus sampaikan apa adanya bahwa belum bisa berkompetisi dengan produk-produk yang berasal dari luar negeri, berkaitan dengan harga. Dan juga beberapa produk belum bisa bersaing, berkaitan dengan kualitasnya,” katanya.

Rizal Ramli Kritik Pemerintah Soal Impor Baja Ugal-ugalan

Jauh sebelum Jokowi membahas soal impor baja, ekonom senior Rizal Ramli sempat mengkritik kebijakan impor baja tersebut. Padahal menurutnya, Indonesia memiliki Krakatau Steel yang merupakan pembuat baja yang menjadi andalan RI yang dibuat di era Soekarno.

Menurut Rizal, baja China kebanyakan dan banyak dijual ke Indonesia dengan harga murah. Ia mengaku meminta pemerintah laksanakan memberikan tarif antidumping sebesar 25% terhadap produk baja dan turunannya. “Otomatis impor baja akan turun, impor kita akan turun US$ 5 miliar. Produksi dalam negeri naik, Krakatau Steel dan swasta akan untung,” ujarnya, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia menjelaskan, saat itu pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur dalam satu periode ke belakang, dimana semestinya penjualan Krakatau Steel naik. “Tapi, yang naik malah justru impor baja dari Cina, yang harganya dumping dan aturan impornya dipermudah, tidak aneh Krakatau Steel merugi,” jelasnya.

PT Krakatau Steel Catat Kerugian 467 Persen Jadi Rp2,97 Triliun

PT Krakatau Steal (Persero) membukukan kerugian sebesar US$211,91 juta atau setara dengan Rp2,97 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.000) pada kuartal III 2019. Kerugian perseroan tersebut membengkak 467 persen dari periode sama tahun 2018 lalu.

Pasalnya, tahun lalu Krakatau Steel tercatat hanya membukukan kerugian sebesar US$37,38 juta atau setara dengan Rp523 miliar.

Peningkatan kerugian tersebut dipicu oleh penurunan pendapatan. Tercatat, Emiten dengan kode KRAS ini hanya berhasil membukukan pendapatan US$1,05 miliar atau setara dengan Rp14,7 triliun pada kuartal III kemarin.

Jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, pendapatan tersebut turun 17,5 persen. Pasalnya, mereka masih berhasil membukukan pendapatan sebesar US$1,27 miliar atau setara dengan Rp17,9 triliun pada periode tersebut.

Dalam keterbukaan yang mereka sampaikan ke Bursa Efek Indonesia, perusahaan menyebut penurunan pendapatan dipicu oleh penjualan produk baja lokal. Tercatat penjualan baja lokal  hanya mencapai US$776 pada kuartal III 2019 kemarin.

Penjualan tersebut turun 28,8 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang masih bisa mencapai US$1,09 miliar. Beruntung, tekanan terhadap penjualan tersebut tertahan oleh kinerja ekspor baja.

Tercatat, penjualan baja ke luar negeri KRAS berhasil mencapai US$90,9 ribu pada kuartal III kemarin. Penjualan tersebut naik 172,9 persen menjadi US$33,3 ribu. Selain tertolong oleh ekspor, tekanan juga terahan oleh pendapatan real estate dan perhotelan.

Pendapatan dua lini bisnis KRAS tersebut naik dari US$12,8 ribu menjadi US$29,4 ribu. (Fel)

Komentar

News Feed