oleh

Tol Becakayu, Warga: Jalan Pintu Masuk Sempit, Kita Dipaksa Masuk, Lewat Bawah Jalannya Rusak Semua!

indonesiakita.co – Pembangunan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) ternyata tak serta-merta dirasakan manfaat positif bagi warga yang melintas di kawasan Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, maupun warga yang tinggal di lokasi tersebut. Ironisnya, saat ini yang terjadi adalah sejumlah jalan berlubang menghiasi area bawah tol tersebut.

Roni, warga Jati warna mengatakan kesulitan saat melintas di bawah jalan tol pada saat berangkat kerja sangat dirasakan pengendara motor. “Bagaimana tidak, kita berjibaku pagi-pagi berangkat kerja, tapi jalan di bawah rusak, berlubang. Ini kan bikin bahaya pengendara motor terutama, “ ujarnya, kepada redaksi indonesiakita.co, pagi tadi.

Menurutnya, pemerintah membangun Tol Becakayu tidak disertai perbaikan jalan yang berada di bawah tol. “Saya paham maksudnya dibangun jalan tol untuk mempermudah akses masyarakat dari Bekasi ke Jakarta, tapi yang di bawah juga diperbaiki dong, selain bahaya, sering makan korban juga di sini,” tutupnya.

Berbeda dengan Sulastri, pedagang warung yang berada di area Kalimalang, Caman mengatakan sejak dibangunnya jalan tol Becakayu, pendapat yang ia rasakan menurun. “Menurun drastis, biasanya ada saja orang yang mapir makan kesini, sekedar bungkus nasi, atau sarapan sambil berangkat kerja. Tapi kini agak sepi karena pengendara sekarang bergerak cepat mengendarai sepeda motor, kan tambah banyak motor yang lewat,” ungkapnya.

Sementara itu, Faisal, warga Taman Galaxi mengatakan, Tol Becakayu tidak efektif bagi warga Bekasi, karena selain mahal, tol pintu masuk tol tersebut cukup kecil. “Saya gak tau ya,, maksudnya apa, anda lihat saja pintu masuk tol Becakayu, sempit banget, kalaiu pagi itu acet parah, jadi seolah kita pengedara mobil seperti dipaksa masuk ke tol, tapi kan harganya mahal banget, cuma dari Bekasi sampe cawang sampai Rp 14.000,” ini luar biasa,” jelasnya singkat.

Sebagai informasi, bahwa jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) seksi 1BC yang menghubungkan Cipinang-Jakasampurna telah beroperasi sejak November 2017 yang lalu. Namun, ruas tol yang menjadi salah satu jalan alternatif bagi warga Bekasi menuju Cawang, Jakarta Timur itu kerap dianggap mahal lantaran tarifnya yang mencapai Rp 14.000 hanya untuk melalui jalan sepanjang 8,26 km.

Biaya perjalanan tol yang mencapai Rp 14.000 sendiri diberlakukan untuk kendaraan golongan I yang menggunakan jalan tol Becakayu sepanjang total 21,04 km. Namun karena tol ini memberlakukan sistem tarif tol terbuka, maka pengguna jalan dikenakan tarif merata baik untuk jarak terdekat maupun terjauh.

Adapun setelah diresmikan pada November tahun lalu hingga awal tahun 2018, lalu lintas harian rata-rata (LHR) tol Becakayu memang terbilang masih sepi, yakni rata-rata 11.000 kendaraan per hari. Angka ini jauh di bawah prediksi BPJT yang memperkirakan LHR untuk seksi 1BC dapat mencapai 22.000 kendaraan setiap hari.

Namun LHR tol ini diyakini bisa bertambah hingga menjadi 40.000 kendaraan per hari jika konstruksi seluruhnya sudah tersambung di mana jalan tol Becakayu terhubung dengan jalan tol Wiyoto Wiyono di sebelah utara dan jalan tol Jakarta-Cikampek di sisi selatan.

Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menilai tarif jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) tidak perlu diturunkan, meski banyak yang mengaku terbebani dengan mahalnya tarif pada pengguna mobil. Contoh dari Taman Galaxy Jaka Sampurna (Bekasi) sampai Cawang (Jakarta) bapengendaran dikenakan biaya Rp 14.000 per perjalanan. Untuk diketahui, tol JORR memiliki tarif Rp 9.500 dan untuk tol dalam kota Rp 9.000 per perjalanan.

Namun, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry TZ mengatakan hal ini tidak menjadi penyebab utama sedikitnya volume kendaraan yang masuk ke jalan tol tersebut, meskipun menjadi salah satu tol dengan tarif mahal yaitu Rp 1.500/Km.

“Jangan [turunkan tarif], biarin saja sih kalau itu saya pikir, kan ada berbagai alternatif untuk meningkatkan volume kendaraan. Jakarta kan daya belinya masih besar. Kalau dirasa mahal ya biar saja, kalau tidak mau pakai ya sudah,” ujarnya di Kementerian PUPR, Jumat (23/3/2018) lalu. (Fel)

Komentar

News Feed