oleh

Faisal Basri: Gara-gara Infrastruktur Asing Kuasai Impor, Karena Pemerintah Tak Membangun Perekonomian Berbasis Maritim!

indonesiakita.co – Debat Capres yang akan digelar di Hotel Sultan Jakarta, pada hari ini tentunya banyak pihak yang menanti dua calon pemimpin ini bertemu dalam sebuah gelanggang perdebatan. Namun tentunya, bukan sedikit catatan yang akan menyulitkan petahana, yakni Joko Widodo, mengingat beberapa waktu lalu banyak sindiran dari sejumlah pihak yang mempertanyakan proyek infrastruktur yang dikerjakan pemerintah.

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, sebelumnya sempat melontarkan kritikan berbentuk pujian terhadap Deputi I Kantor Staf Presiden, Darmawan Prasodjo. Pasalnya, ia menilai apa yang dipaparkan oleh Darmawan tak sesuai dengan pertanyaan dari presenter yang memandu acara bertajuk Potret Ekonomi di Tahun Politk’ di salah satu tv swasta, beberapa waktu lalu.

Dimana memang, sebelumnya presenter Tysa Novenny mempertanyakan adanya tudingan dari Bank Dunia yang menilai pembangunan Infrastruktur cenderung terlihat tergesa-gesa, dan menggunakan utang yang sangat besar.

Namun Darmawan justru menjelaskan, kesuksesan pemerintah membangun infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan Darmawan menyebut, wilayah Timur Indonesia kini sudah memiliki pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya.

Menanggapi hal ini, Faisal Basri tersenyum lebar dan mengatakan kagum pada Darmawan. “Yang ditanya apa, yang dijawab apa menunjukkan betapa habatnya mas Darmawan. soalnya yang ditanya kan proyek tol, LRT, itu yang dipermasalahkan bank Dunia. Karena ada pembangunan yang tidak lewar RPJM. Hal itu yang menimbulkan masalah.

Ini Fakta, sampai 2018 kue ekonomi Jawa naik terus, yang kita lihat kawasan timur dan barat, seolah-olah kawasan timur hebat, tapi yang hebat cuma Sulawesi, jadi Maluku Papua, Bali dan Nusa Tenggara stuck, tidak bergerak sampai sekarang. Kawasan barat turun, sumatera dan kalimantan, kedua daerah ini juga bermasalah. jadi kawasan yang mau hanya jawa,”tambahnya.

Karena hal inilah, Faisal mengatakan, bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak sekedar membangun infrastruktur. “Seperti di China, Singapura dan lainnya, tapi di Indonesia beda, Indonesia adalah negara maritim, kepulauan terbesar di dunia. Tapi pembangunan justru terpilah-pilah, jadi kita bangun energi sendiri, kelautan sendiri.

“Sehingga akhirnya, kita kehilangan roh sebagai negara maritim. Karena saat ini 95 % ekspor-impor kita diangkut oleh kapal asing. Nah, akibat ada infrastruktur yang berkembang, barang impor sampai ke desa-desa, dan lebih murah dari lokal. Mengapa, karena kita tidak membangun sistem perekonomian kita berbasis maritim,” tutupnya.

Faisal juga menyindir Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan yang menurutnya, tidak banyak memikirkan masalah maritim, melainkan hal-hal yang lain.

“Mungkin ini karena akses angkatan darat terlalu lama berkuasa, menteri maritimnya angkatan darat yang gak ngurusin martitim, malah ngurusin yang lainnya, jadi ini ironisnya, bukan yang punya jiwa laut yang buat indoneisa berjaya seperti jaman sriwijaya dan majapahit,” ketus Faisal.

Faisal juga menyindir pembangunan pelabuhan Sibolga. “Selama ini kalau kita lihat jeruk medan diangkut pakai truk, nanti jalan ke pelabuhan semakin baik. Jadi tidak akan bisa kita bersaing jika pembangunan infrasturkturnya seperti sekarang. Betul logistik cost akan turun, tapi tidak signifikan. Akan turun kalau terjadi pergeseran moda angkutan dari darat ke laut. Karena ongkos darata itu 10 kali lebih mahal dari jalur laut. “Jadi Darat mendukung laut. Tapi sekarang yang terjadi darat dulu, laut kemudian menyesuaikan,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed