oleh

Deputi I KSP Berkelit Soal Infrastruktur, Faisal Basri: Ditanya Apa.. Jawabnya Apa

indonesiakita.co – Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, melontarkan kritikan berbentuk pujian terhadap Deputi I Kantor Staf Presiden, Darmawan Prasodjo. Pasalnya, ia menilai apa yang dipaparkan oleh Darmawan tak sesuai dengan pertanyaan dari presenter yang memandu acara bertajuk Potret Ekonomi di Tahun Politk’ di salah satu tv swasta, tadi malam.

Sebelumnya presenter Tysa Novenny mempertanyakan adanya tudingan dari Bank Dunia yang menilai pembangunan Infrastruktur cenderung terlihat tergesa-gesa, dan menggunakan utang yang sangat besar.

Namun Darmawan justru menjelaskan, kesuksesan pemerintah membangun infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan Darmawan menyebut, wilayah Timur Indonesia kini sudah memiliki pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya.

Menanggapi hal ini, Faisal Basri tersenyum lebar dan mengatakan kagum pada Darmawan. “Yang ditanya apa, yang dijawab apa menunjukkan betapa habatnya mas Darmawan. soalnya yang ditanya kan proyek tol, LRT, itu yang dipermasalahkan bank Dunia. Karena ada pembangunan yang tidak lewar RPJM. Hal itu yang menimbulkan masalah.

Ini Fakta, sampai 2018 kue ekonomi Jawa naik terus, yang kita lihat kawasan timur dan barat, seolah-olah kawasan timur hebat, tapi yang hebat cuma Sulawesi, jadi Maluku Papua, Bali dan Nusa Tenggara stuck, tidak bergerak sampai sekarang. Kawasan barat turun, sumatera dan kalimantan, kedua daerah ini juga bermasalah. jadi kawasan yang mau hanya jawa,”tambahnya.

Atas dasar tersebut, Faisal mengatakan, bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak sekedar membangun infrastruktur. “Seperti di China, Singapura dan lainnya, tapi di Indonesia beda, Indonesia adalah negara maritim, kepulauan terbesar di dunia. Tapi pembangunan justru terpilah-pilah, jadi kita bangun energi sendiri, kelautan sendiri.

“Sehingga akhirnya, kita kehilangan roh sebagai negara maritim. Karena saat ini 95 % ekspor-impor kita diangkut oleh kapal asing. Nah, akibat ada infrastruktur yang berkembang, barang impor sampai ke desa-desa, dan lebih murah dari lokal. Mengapa, karena kita tidak membangun sistem perekonomian kita berbasis maritim,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed