oleh

Kelompok Studi Ekonomi Islam Unibra Malang Bandingkan Ekonomi Gus Dur dengan Jokowi, Hasilnya?

indonesiakita.co – Kelompok Studi Ekonomi Islam universitas Brawijaya Bersama forum Pencinta Gus Dur menggelar seminar dengan konsep ‘Membedah Konsep Ekonomi Gus Dur. Adapun acara itu digelar pada 31 Januari 2019 lalu dengan dihadiri, ekonom senior Indonesia, Rizal Ramli dan Prof. Edi Sriswasono.

Kedua tokoh tersebut menyimpulkan kondisi ekonomi saat ini yang terjadi dengan membandingkan posisi ekonomi Indonesia di era pemerintahan Gus Dur sangat jauh berbeda.
Pada kesempatan tersebut, Rizal Ramli menyatakan, presiden terpilih nanti harus bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

“Sudah saatnya ekonomi kita ini harus bangkit. Untuk itu saya tes dengan bertanya bagaimana gagasan dari kedua kubu untuk perbaikan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Target apa yang bisa mereka berikan,” tegas Rizal.

Ia juga masih menunggu jawaban yang tepat sebelum dirinya memutuskan untuk memilih capres yang tepat untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Siapa dari kedua capres ini yang berkesempatan untuk menawarkan menu untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi bagi bumi kita, siapa yang bakal sungguh-sungguh bisa menghasilkan ekonomi di atas 8 persen dalam lima tahun menjabat itu hebat. Kalau hanya 5 persen kita ya tetap begini saja,” tutup Rizal.

Selain itu, kesimpulan seminar tersebut juga menghasilkan sebuah pemikiran, yakni:

1. Kedua narasumber menyimpulkan bahwa pemikiran dan arah kebijakan ekonomi Gus Dur sebagai presiden benar benar mencerminkan satu tekad dan upaya menjadikan Indonesia tidak hanya berdaulat secara politik tapi juga berdaulat secata ekonomi.

2. Gus Dur sekuat tenaga Menyetop Impor pangan dan menggenjot ekspor , karena kebijakan impor apalagi mengimport pangan adalah menunjukkan jiwa irlander dan membuat ekonomi bangsa ini tidak berdaulat, karena bergantung dg luar, seperti rejim sekarang ini masih impor garam padahal mampu dipruduksi rakyat sendiri . Demikian prof Edy menegaskan.

2. Gus Dur berusaha berdaulat dg cara melakukan moratorium utang bahkan dapat membayar utang 4 milyar USD. Tapi sekarang utang gila gilaan, *padahal utang besar besaran adalah sebagai pintu awal datangnya penjajah gaya baru.

3. Gus Dur berhasil membuka lepangan kerja sebanyak 5 juta hanya 21 bulan, *bandingkan dg era jokowi yang hanya 400 ribu pertahun itupun harus dibagi dengan tenaga asing, ( data menunjukkan kebijakan impor era Jokowi atas komoditi baja dan lain lain telah menyebabkan PHK hampir 1 juta tenaga kerja).

5. Gus Dur keberpihakannya ke rakyat sangat kuat, maka wajar dapat berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga 5% *bandingkan jokowi hanya 1% karena jokowi dinilai keberpihakannya pada rakyat hanya sebatas retorika, tidak wujud dalam kebijakan. (Fel)

Komentar

News Feed