oleh

Tujuh Tahun Ekonomi Indonesia Dipegang Sosok yang Bukan Ahlinya!

indonesiakita.co – Semalam saya bertemu dengan orang yang mengaku teman kuliah Sri Mulyani di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, tahun 1990-an awal. Dia bercerita bahwa Sri Mulyani sebenarnya bukan seorang macroeconomist, melainkan seorang ekonom perburuhan.

Awalnya saya sempat tidak percaya, mana mungkin. Bukankah Sri Mulyani bertahun-tahun menjadi menteri keuangan, seorang yang seharusnya memiliki pemahaman luas tentang makro ekonomi dan moneter.

Kemudian sesampainya di rumah saya periksa ke website kampus tempat Sri Mulyani menyelesaikan doktoralnya. Dan, astaga, benar sekali. Judul disertasi Sri Mulyani adalah:”Measuring the labor supply effect of income taxation using a life-cycle labor supply model: A case of Indonesia” atau artinya: “Mengukur Efek Suplai Tenaga Kerja dari Pajak Pendapatan menggunakan suatu model siklus-kehidupan suplai tenaga kerja: Studi Kasus Indonesia”. Berikut ini adalah link website sumber: https://www.ideals.illinois.edu/handle/2142/20436

Saya menjadi tercenung. Jadi selama hampir tujuh tahun, Presiden SBY 4 tahun, Pak Jokowi hampir 3 tahun, mempercayakan Kementerian Keuangan kepada seorang ekonom yang bukan ahli makro moneter, melainkan ahli ekonomi perburuhan. Kalau dalam ilmu ekonomi, kasta keduanya bagaikan bumi dan langit. Ilmu ekonomi moneter jauh lebih rumit dan susah, sedangkan ilmu ekonomi perburuhan bisa dikatakan tidak sesusah itu.

Makanya sangat sedikit orang Indonesia yang memiliki disertasi ilmu ekonomi makro moneter. Beberapa di antaranya adalah Anwar Nasution, Sudradjad Djiwandono dan Miranda Gultom dari Boston University, Amerika Serikat.

Pantas saja, di bawah Sri Mulyani, Kementerian Keuangan banyak sekali mencetak utang. Dan bukan sembarang utang. Bunga utang yang dibuat selalu terbilang tinggi bahkan bila dibandingkan negara-negara Asia lain. Itu juga yang membuat banyak investor keuangan global dan lembaga-lembaga keuangan senang pada Sri Mulyani, yang gemar menjalankan kebijakan pengetatan anggaran (austerity policy).

Mungkin dirinya tidak ada maksud menjahati rakyat Indonesia, dengan mewariskan utang berbunga tinggi dan kebijakan pengetatan anggaran tersebut. Sederhananya, Sri Mulyani hanya tidak mengerti benar seluk beluk makro ekonomi moneter. Karena dirinya hanya seorang ekonom perburuhan. Sial sekali Bangsa Indonesia, bertahun-tahun punya menteri tetapi bukan yang terbaik di bidang kementeriannya.

Redaksi: Tulisan ini beredar di sejumlah Whatsapp group. Menarik untuk dibaca guna masyarakat indonesia memahami polemik utang RI seperti yang saat ini terjadi di Indonesia. (Fel)

Komentar

News Feed