oleh

Tak Hanya Soal Natuna, Rizal Ramli Juga Kritik Soal Potensi Industri China di Indonesia

-Headline, News-46 views

indonesiakita.co – Polemik perbatasan Indonesia-China kian memanas. Hal ini terjadi ditandai dengan adanya insiden masuknya kapal nelayan asal China yang masuk di perairan Natuna secara ilegal.

Tokoh nasional Rizal Ramli berharap pemerintah dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan cara elegan. “Ya.. dengan cara elegan, artinya apa? kita ini bangsa yang memiliki harga diri, jika memang itu wilayah kita, katakan ya dan memang harus kita jaga,” ujarnya, hari ini.

Rizal juga mengingatkan, bahwa menjaga perbatasan negara adalah hal yang penting. “Ingat loh.. waktu saya Menko.. itu nama Laut China Selatan kita ganti dengan Laut Natuna Utara.. karena pada hakikatnya ita harus menjaga keutuhan negara ini,” tambahnya.

Meski demikian menurutnya, penting menjaga persahabatan pada negara-negara tetangga.

“Kita ingin berteman dgn siapa saja. Tetapi kita harus melawan siapapun yang menganggu kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia. Tidak usah kecil hati kalau kita belum unggul hardware. Serbuan Kubilai Khan kita patahkan, Sekutu di Surabaya kita kalahkan. Kita bangsa hebat!” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, jauh sebelumnya mantan Menko Maritim Rizal Ramli juga mengkritik sejumlah kebijakan yang melibatkan China di Indonesia. Dimana impor komoditas besar, sepeti baja.

Menurutn Rizal, baja China kebanyakan dan banyak dijual ke Indonesia dengan harga murah. Ia mengaku meminta pemerintah laksanakan memberikan tarif antidumping sebesar 25% terhadap produk baja dan turunannya. “Otomatis impor baja akan turun, impor kita akan turun US$ 5 miliar. Produksi dalam negeri naik, Krakatau Steel dan swasta akan untung,” ujarnya, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Rizal juga menjelaskan, saat itu pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur dalam satu periode ke belakang, dimana semestinya penjualan Krakatau Steel naik. “Tapi, yang naik malah justru impor baja dari Cina, yang harganya dumping dan aturan impornya dipermudah, tidak aneh Krakatau Steel merugi,” jelasnya.

Selain itu, Rizal juga sempat menaruh curiga adanya tawaran asuransi China ke BPJS Kesehatan beberapa waktu lalu. Dimana tawaran tersebut merupakan bantuan perusahaan asuransi asal China, Ping An Insurance guna memperbaiki sistem informasi dan teknologi (IT) milik Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPJS
Kesehatan.

Ia menilai, ada potensi bahwa data-data kesehatan masyarakat Indonesia bisa disimpan oleh negara tirai bambu tersebut. Terlebih peserta BPJS Kesehatan terbilang cukup banyak. Data per 30 Juni 2019 mencatat peserta BPJS Kesehatan sebanyak 222,5 juta jiwa. “Masa sih soal BPJS saja minta bantuan China. Segitu tidak kreatifnya (pemerintah) atau ada ‘udang di balik batu’?” jelas Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed