oleh

Menteri Terbaik, Sahabat IMF, Ternyata ‘Ratu Utang’

indonesiakita.co – Bunga (yield) yang ketinggian akan merugikan rakyat dan Bangsa Indonesia di masa mendatang. Akibat tingginya bunga SBN, maka porsi pembayaran bunga utang dalam APBN akan terus meningkat sehingga akhirnya membebani anggaran yang seharusnya dapat lebih dimanfaatkan untuk rakyat. Misalkan untuk menambal defisit BPJS, meningkatkan dana bencana, dan anggaran sosial lainnya.

Dibanding negara-negara Asia Pasifik, bunga surat utang kita termasuk paling tinggi. Untuk surat utang tenor 10 tahun, Indonesia pasang bunga sekitar 8,1%. Bandingkan dengan negara-negara tetangga, semisal Thailand hanya pasang bunga sekitar 2,5%. Singapura 2,14%. Malaysia 4,07%. Vietnam, yang peringkat surat utangnya lebih rendah dari Indonesia, bisa pasang bunga lebih rendah sekitar 4,9%. Filipina yang ratingnya nyaris setingkat dengan Indonesia, juga dapat pasang bunga 6,6%.

Seandainya kita bisa pasang bunga sekitar 6% saja, kan lumayan untuk penghematan bagi generasi di masa depan. Selisih bunga 2% itu sangat besar nilainya, apalagi besar pinjaman kita yang sampai ratusan triliun Rupiah. Silakan dihitung saja berapa potensi dana yang bisa kita selamatkan bila kita lebih “pelit” dalam memasang bunga surat utang.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah tindakan mengobral bunga surat utang yang ketinggian bukan termasuk tindak pidana korupsi? Bukankah tindakan ini merugikan perekonomian nasional tapi menguntungkan pihak lain?, namun naluri saya ini mengatakan ada yang salah dengan kebijakan ini.

Ngomong-ngomong tentang mereka yang diuntungkan, memang kebijakan bunga tinggi ini disukai investor di pasar uang. Semakin tinggi bunga surat utang yang dipasang pemerintah, maka semakin kaya raya mereka yang berinvestasi di pasar uang. Jadi sebenarnya Pemerintah ini bekerja untuk investor pasar uang yang sudah kaya raya atau untuk rakyat kita yang masih berpendapatan rendah? (Gede Sandra)

Komentar

News Feed