oleh

Rizal Ramli ‘Skak Mat’ Johnny Plate Soal Impor Gula

indonesiakita.co- Ekonom Indonesia Rizal Ramli menanggapi impor gula yang dilakukan oleh pemerintah jelang Pilpres 2019. Ia menjelaskan bahwa ada skema yang membuat rakyat Indonesia menjadi ketergantungan terhadap impor gula.

Sebagaimana diketahui, Indonesia berada di urutan pertama negara pengimpor gula terbesar di dunia pada periode 2017-2018, dengan volume impor 4,45 juta ton. Indonesia mengungguli Tiongkok yang berada di posisi kedua dengan 4,2 juta ton dan Amerika Serikat dengan 3,11 juta ton.

“Impor gula ini sebetulnya sah-sah saja, jika memang dibutuhkan. Tapi ini yang terjadi kan, kelebihan impor gula yang terjadi saat ini. Bayangkan saja, petani merasa kerugian ketika mereka mencoba memproduksi tebu yang lebih banyak, tapi takut… karena apa? Jikapun mereka panen pasti hasilnya kalah dengan gula impor,” ujar Rizal dalam sebuah talkshow di salah satu tv swasta, malam ini.

Rizal juga kembali mengungkapkan bahwa presiden Joko Widodo sebelumnya berkampanye pada 2014 lalu terkait penolakan impor pangan. “Saya dulu kagum betul dengan mas Jokowi saat kampanye dengan menyebut ‘kita harus tolak impor pangan’, namun apa yang terjadi saat ini, menterinya malah doyan impor dan gk sesuai dengan Triskti,” tambah Rizal.

Namun, disaat Rizal akan menjelaskan lebih dalam, tiba-tiba politisi Nasdem Jhonny Plate mencoba menyelanya dengan menyebut penyampaian harus berbasis data. “Jadi harus berbasis data, jangan asal bicara mengenai impor gula jika tak memiliki data itu bisa mengarah pada penggiringan opini dan fitnah” ujar Jhonny.

Menanggapi tudingan Jhonny mengenai penyampaian informasi yang tak berbasis data.” Sebentar…. saya sudah berikan data ke Bareskrim Polri.. datanya, dan beritanya, dan saya juga datangi KPK, jadi saya sudah sampaikan semua datanya,” tegas Rizal.

Rizal menambahkan bahwa Indonesia seharusnya bisa menjadi eksportir terbesar di dunia.”Namun sistem saat ini yang terjadi tidak jalan, biasanya departemen perdagangan ingin impor, bulog juga maunya impor, tapi sebaliknya, departemen pertanian justru selalu kelebihan. Nah seharusnya yang menjadi penengah menko-nya. Waktu saya jadi menko dua tahun gak ada impor beras sama sekali kok!,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed