oleh

Daftar TKI Dieksekusi Mati Tak Sedikit, Jokowi-Ma’ruf Sulit Dapatkan Dukungan WNI di Arab Saudi

-News-54 views

indonesiakita.co – Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) yang berada di Arab Saudi melakukan deklarasi untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Adapun mereka berkumpul di di Ballroom hotel Alwaha, Jeddah, Jumat malam pukul 18.30 waktu setempat (11/01/2019).

Dukungan kali ini, merupakan deklarasi ke empat yang dilakukan JKSN di luar negeri. Dimana memang sebelumnya deklarasi digelar di Taiwan (Taipei Main Station, 23 Desember 2012), Hong Kong (Victoria Park, 25 November 2018) dan Malaysia (Kuala Lumpur, 21 Oktober 2018).

Mengutip daata dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah mencatat, Prabowo-Hatta meraih 5.626 suara (51,22 persen) mengungguli Jokowi-JK dengan 5.357 suara (48,78 persen) dari total suara sah 10.983.

“Kali ini untuk Arab Saudi, diharapkan Pak Jokowi-Kiai Ma’ruf bisa menang mutlak. Melihat banyaknya peserta yang hadir, insya Allah membawa pertanda kemenangan,” ujar, Ketua Umum JKSN Pusat, KH M Roziqi Yasir.

Hal yang tak jauh berbeda juga diucapkan oleh Ketua JKSN Arab Saudi, Imron Masyhudi . Ia juga berharap mayoritas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi — khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU) — akan sepenuhnya mendukung Jokowi-Ma’ruf. “Setidaknya 70 persen lebih insya Allah Pak Jokowi-Kiai Ma’ruf menang di Arab Saudi,” sambungnya singkat.

Sebagaimana diketahui, jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi terbilang tidak sedikit. Namun, bukan hanya jumlah, kasus kematian yang dialami oleh TKI juga ternyata mewarnai dunia kerja pengumpul devisa negara tersebut.

Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel sebelumnya menyatakan, bahwa tidak mengetahui pasti berapa jumlah TKI yang berada di Arab Saudi. Menurutnya, kebijakan moratorium TKI ke Arab Saudi menjadi salah satu sebab banyaknya kasus yang terjadi. Sehingga, banyak WNI yang masuk ke Arab Saudi dengan berbagai cara, termasuk dengan ilegal dan membuatnya sulit dideteksi.

“Jumlah WNI kita di Saudi seberapa banyak, yang tahu hanya Allah,” ujar Agus di ruang konferensi pers, Palapa, Kemenlu, Pejambon, Jakarta Pusat, Kamis (15/2/2018).

Selain itu, Koordinator Komunitas TKI Bijak Cirebon, Nurul Huda menyebutkan sesuai data BNP2PTKI yang mencatat terdapat 2500 TKI yang berangkat ke Arab Saudi pada 2017. Padahal, Indonesia mengeluarkan larangan keberangkatan TKI ke Arab Saudi. “Mereka sudah pasti ilegal, karena pada tahun itu dilarang keberangkatan TKI di Arab Saudi, tapi sekarang jumlahnya semakin banyak,”ujarnya, (3/4/2018) lalu.

Adapun masalah yang dialami oleh TKI di Arab Saudi bukan hanya soal legal dan ilegal, bahkan kematian bukan hanya sekali-dua kali. Terbilang beberapa waktu lalu, salah satu TKI Tuti Tursilawati asal Majalengka, Jawa Barat, dieksekusi mati tanpa pemberitahuan pemerintah terlebih dahulu.

Meski Keluarga Tuti di Majalengka, Jawa Barat, telah diberitahu dan menyatakan “ikhlas menerima keputusan meskipun mereka menampakkan kekagetan,” kata Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia, Kemenlu.
“Baru tanggal 19 (Oktober) lalu Tuti mengontak melalui video call dan tak menyampaikan indikasi apapun akan dilakukan eksekusi. Bahkan tanggal 28 (Oktober), KJRI Jeddah mengontak dan Tuti menyampaikan dalam kondisi sehat,” ujar Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia, Kemenlu (30/1/2018).

Selain itu ada juga kasus TKI Zaini, serta masih banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang terancam hukuman mati di luar negeri. Bahkan Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, menyatakan, setidaknya ada 178 orang WNI yang terancam mati di luar negeri.

Hal ini ia ungkapkan di acara Mata Najwa, yang disiarkan langsung oleh Trans 7, Rabu (28/3/2018). “Kalau di Saudi Arabia sekitar 20 orang, di Saudi saja. Di Malaysia 117 orang, Qatar 1 orang, Iran 1 orang, dan China 2 orang. Ada 178 warga kita yg terancam hukuman mati di luar negeri,” tegasnya.

“Khusus untuk Saudi, kita memang harus benar-benar cermat pada tingkatan mana TKI atau Warga Negara Indoneesia itu sudah divonis mati, sudah incracht, atau masih pada proses hukum dan tinggal pemaafan dari keluarga, pemerintah harus mendata, sehingga diplomasi atau upayanya tidak keliru,” kata Wahyu.

Selain itu, kasus di Malaysia, kebanyakan warga Indonesia yang divonis mati adalah terkait kasus narkoba. Namun untuk kasus di negara tetangga ini, Migrant Care melihat ada harapan yang bisa dimaksimalkan oleh Pemerintah Indonesia.

“Memang di Malaysia sekarang ada soft moratorium (hukuman mati). Jadi sebenarnya masih banyak ruang dari pemerintah Indonesia untuk melobi,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, berita terakhir soal eksekusi mati terhadap WNI datang dari Arab Saudi. Muhammad Zaini Misrin, TKI asal Madura telah dihukum pancung di Arab Saudi. Zaini dipancung karena melakukan pembunuan terhadap majikannya dan kemudian Tuti Tursilawati yang juga dieksekusi mati tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. (Fel)

Komentar

News Feed