oleh

Impor Gula Jelang Pilpres, Rizal Ramli: Kalau Mau Menang Jangan Hantam Petani!

-Ekonomi-329 views

indonesiakita.co – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, bahwa kebutuhan impor gula dilakukan untuk industri, dan bukan konsumsi. Ia juga menjelaskan, impor gula tersebut juga merupakan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

“Itu gula industri loh kita tidak mengimpor gula konsumsi. Tahun ini kita belum ada sama sekali belum. Itu impornya melalui perindustrian, rekomendasinya dia,” ujar Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Rabu (9/1/2019).

Jauh sebelumnya, ekonom senior Rizal Ramli mengatakan, bahwa jika kartel yang melakukan impor pangan maka mereka akan mendapatkan keuntungan puluhan triliun. Menurutnya, hal tersebut sengaja dilakukan ketika panen petani tebu datang. Sehingga tercipta ketergantungan permanen dalam prosesnya.

“Kartel impor pangan, yg dapat keuntungan puluhan trilliun, memang sengaja melakukan impor pada saat panen. Sehingga petani tebu, padi dan bawang tahun depan mengurangi produksinya. Tercipta “ketergantungan permanen”. Jahat sekali,” ujar Rizal, saat dihubungi siang ini.

Bahkan, Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini sempat meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memulai sejarah baru dengan menyelidiki dugaan kasus impor yang pernah dilaporkannya. Rizal meminta lembaga antirasuah itu dalam memberantas kasus korupsi tidak hanya fokus pada kerugian negara. Tetapi juga memproses kebijakan-kebijakan yang menimbulkan kerugian perekonomian negara.

“Undang-undang ada pasal yang mengatakan, bisa dituduh melakukan tindakan yang merugikan ekonomi nasional, artinya tindakan yang merugikan petani, nelayan bisa dikenakan tindakan korupsi,” tegasnya, usai memberikan kuliah tamu Gerakan Belajar (Gelar) Kebangsaan di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB Malang, Jawa Timur Kamis (25/10/2018) lalu.

Rizal juga mengingatkan kembali kepada calon presiden yang akan bertarung di Pilpres 2019. Menurutnya, jika ingin mengambil simpati rakyat, seharusnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan adalah yang mendukung kepentingan rakyat.

“Setau saya saat itu, Mas Jokowi pernah katakan di media, pada Muktamar PKB 2014, wah saya happy banget dengernya, ini calon presiden yang saya inginkan dan pasti rakyat juga akan mendukungnya, tapi semakin kesini impor kok muncul terus, entah apa yang terjadi dan gak habis pikir saya. Intinya gampang, kalau mau menang di Pilpres ya harus dukung rakyat, memangnya kita kerja buat siapa?, kan buat rakyat?,” jelasnya lagi.

Sebagaimana diketahui, Jokowi memang sempat menyatakan keheranannya terhadap impor yang cenderung terus dilakukan, padahal menurutnya, Indonesia tidak kekurangan hasil pangan.”kita ini negara yg sangat luas, air sangat banyak, kok beras impor, gula impor, jagung impor, buah impor, kedelai impor, garam impor, cabai impor, bawang putih impor. kok bisa impor semua? apanya yg salah! ada yg keliru!

Mengutip kompas.com (02/07/2014, 21:51 WIB) jokowi: Petani Harus Dimuliakan, Stop Impor.

Saat itu, Joko Widodo mengaku akan menghentikan kebijakan impor pangan jika ia terpilih menjadi presiden 2014 bersama wakilnya, M Jusuf Kalla. Menurut Jokowi, Indonesia yang memiliki kekayaan alam berlimpah dengan tanah yang subur ini seharusnya jadi negara pengekspor.

“Kita harus berani stop impor pangan, stop impor beras, stop impor daging, stop impor kedelai, stop impor sayur, stop impor buah, stop impor ikan. Kita ini semuanya punya kok,” kata Jokowi di Gedung Pertemuan Assakinah, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (2/7/2014).

Sebelumnya, Faisal Basri juga menyoroti harga eceran gula di Indonesia yang menurutnya lebih mahal 2,4-3,4 kali lipat dibandingkan harga gula dunia sepanjang Januari 2017 – November 2018.

“Impor gula rafinasi membanjir. Pemburu rente meraup triliunan rupiah. Mengapa semua diam?” Menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di Dunia. Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan,” cuitnya, pada akun Twitter pribadinya. (Fel)

Komentar

News Feed