oleh

Analis Sosial: PSI Bukan Representatif Sebuah Partai Politik!

-Headline, Politik-4.132 views

indonesiakita.co – Hadiah ‘Kebohongan Terhalu’ yang diberikan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tentunya sempat menyita perhatian publik. Terlebih partai besutan Grace Natalie tersebut memberikan sejumlah penghargaan terhadap Andi Arief, Prabowo Subianto dan sandiaga Uno atas tudingan melakukan kebohongan publik.

Adapun soal Andi Arief, PSI menuding adanya kebohongan terkait adanya informasi temuan 7 kontainer surat suara di Tanjung Priok.

indonesiakita.co mendapat kesempatan berbincang dengan analis sosial Universitas Bung Karno (UBK) Muda Saleh, pada Sabtu (5/1/2019) di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Berikut petikan wawancara yang kami lakukan terhadap Muda atas polemik Award ‘Kebohongan Terhalu’ ala PSI.

Bang Muda, bagaimana tanggapan anda atas penghargaan yang dilakukan PSI terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto- Sandiaga Uno.

“PSI ini nyaris dan hampir tak ada karakteristik sebuah partai politik yang tumbuh di dalamnya. Kenapa?, Penghargaan itukan sifatnya legitimasi, artinya mereka menyampaikan penghargaan meski dalam konteks menghargai atas ‘kebohongan sekalipun’ yang dilakukan oleh seseorang, namun ini tidak pantas dilakukan oleh sekaliber parpol.

“Sejatinya, pihak kepolisian beberapa waktu lalu melalui Ketua Satgas Nusantara Irjen Gatot Edi Pramono menghimbau kepada masyarkat untuk mendapatkan informasi berita dari media konvensional. Sebagaimana diketahui, masyarakat belakangan ini dinilai banyak mengkonsumsi informasi dari media sosial. Hal ini beliau katakan pada saat ada acara di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Minggu (30/12/2018) lalu. Artinya source yang didapatkan oleh PSI juga dari sosmed, dan jika sosmed dijadikan bahan untuk melakukan sebuah serangan terhadap orang atau kelompok lain lucu, mereka jelas tidak cerdas,”

Terkait Andi Arief, bagaimana menurut Bang Muda?

“Saya memang sempat melihat cuitan beliau di sosmed, tapi memang yang saya lihat sifatnya mengingatkan publik dan pihak-pihak terkait untuk segera melakukan pengecekan, meski kemudian akhirnya dihapus, karena mungkin saja ia tak mau menjadi polemik.

“Mudah-mudahan saya tidak salah ya, kalau tidak salah saat itu yang ditwitt adalah: “Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yg sudah dicoblos di Tanjung Priok. Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya karena ini kabar sudah beredar”. Ini jelas tidak ada diksi, tidak ada bahasa bersayap atau singgungan terhadap orang lain, bahasa yang disampaikan adalah informasi,”

Sementara terkait Prabowo dan Sandiaga Uno, bagaimana?

“Apapun, yang sifatnya kesalahan ucapan, slip tongue, semua manusia biasa, kesalahan pasti ada yang dilakukan. Saya yakin Jokowi pun pernah melakukan kesalahan ucap, karena mereka ini sedang bertarung dilevel atas, baik tekanan maupun fikiran sedang dalam kondisi yang menegangkan. Ini bicara soal kekuasaan, bukan sekaliber pemilihan RT, semua orang dalam tekanan,”.

Lalu tanggapan Bang Muda sendiri terhadap PSI seperti apa?

“PSI partai yang berusaha mencoba mencari kekuatan dan kepercayaan publik, terutama generasi muda dengan cara konvensional, meski kita tau sosmed adalah basis anak muda, namun orang tua juga banyak yang menggunakannya, karena selain mengunjungi teman, sosmed juga merupakan sarana informasi yang terkadang lebih cepat didapat daripada media mainstream,”

“Tapi..ini sudah salah setting, mereka mempercayai sosmed sebagai landasan utama untuk menyerang seseorang atau kelompok. Ini menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap parpol, terlebih menjatuhakan kredibilitas Jokowi, dimana Jokowi didukung oleh mereka (PSI). Alasan saya terhadap poin ini adalah karena PSI sebelumnya juga menyatakan ketidak setujuannya terhadap poligami, ini juga disemprot oleh Wakil Ketua Umum Zainut Tauhid, yang menyatakan agama memperbolehkan poligami, selama sang pria dapat memberikan nafkah terhadap istri kedua sesuai dengan aturan yang ada.

Dan ini juga mendapat tamparan dari Ketum PPP Romahurmudziy, dimana Romi mengatakan, jangan sampai kelompok Jokowi anti Islam, sementara ada aturan yang menjelaskan soal poligami. Saya Muslim, karena yang saya tau Islam itu agama yang sangat fleksibel, dan sangat matang dalam aturan-aturannya,”

Dalam arti lain, PSI dapat merusak skema pertarungan politik bagi Jokowi?

“Jelas, PSI ini, maaf ya, seperti sekumpulan anak gaul, yang gak paham politik, trus mau lagu-laguan bicara politik, bahkan menurut saya gak layak jadi partai politik. Karena dari studi kasus hari ini yang saya lihat mereka (PSI) tidak memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, mereka gak elegan, justru mereka yang halu, karena gak tau arah politiknya kemana, cuma nyerang-nyerang aja kerjanya tapi gak berlandaskan faham politik yang matang,”

‘Kasihan masyarakat kita jika dihadapkan sama yang model begini terus, artinya apa? saya melihat justru yang saat ini lebih sering menyerang itu kubu pertahana, karena seharusnya mereka diam saja, kan masyarakat yang menilai kelemahan lawan mereka, ini lucu dan jauh dari ekspektasi saya soal pendidikan politik di Indonesia. (Fel)

Komentar

News Feed